<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Benny Yohanes&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com</link>
	<description>welcome to my blog :)</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 07:00:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bennyyohanespanjaitan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Benny Yohanes&#039;s Blog</title>
		<link>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/osd.xml" title="Benny Yohanes&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jendela Kecil AQUASCAPE</title>
		<link>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2011/08/05/jendela-kecil-aquascape/</link>
		<comments>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2011/08/05/jendela-kecil-aquascape/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 14:29:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennyyohanespanjaitan</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Aquascape adalah seni dalam mendekorasi tanaman dalam ekosistem buatan. Dimasa kini, aquascape dijadikan sebagai suatu hobi oleh banyak orang. Semakin tahun, peminat akan hobi ini semakin bertambah. Hal ini terbukti dari semakin ramainya toko-toko yang menyediakan peralatan dan tanaman untuk aquascape dan komunitas-komunitas aquascape yang semakin banyak merambah di dunia internet untuk saling bertukar ilmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=201&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_206" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/img_1214.jpg"><img src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/img_1214.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" title="&quot;Greenland&quot; Iwagumi Tank" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-206" /></a><p class="wp-caption-text">&quot;Greenland&quot; Iwagumi Tank</p></div>
<p style="text-align:justify;">Aquascape adalah seni dalam mendekorasi tanaman dalam ekosistem buatan. Dimasa kini, aquascape dijadikan sebagai suatu hobi oleh banyak orang. Semakin tahun, peminat akan hobi ini semakin bertambah. Hal ini terbukti dari semakin ramainya toko-toko yang menyediakan peralatan dan tanaman untuk aquascape dan komunitas-komunitas aquascape yang semakin banyak merambah di dunia internet untuk saling bertukar ilmu dan juga berjualan. Dalam satu aquarium, seorang hobiis dapat menghabiskan biaya sekitar Rp.200.000 hingga puluhan juta, tergantung dari peralatan dan aquarium yang digunakan. dari range harga diatas, dapat dikatakan bahwa hobi ini layak digandrungi dari kalangan bawah hingga kalangan atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanaman yang digunakan aquascape adalah tanaman yang berasal dari rawa dan sungai, sedangkan media yang dijadikan wadah sebagai tanaman tersebut adalah aquarium. Dalam ber-aquascaping, kita dituntut untuk  mampu mendekorasi aquarium dengan tanaman yang cocok sesuai tipe style yang kita inginkan. Selain itu, kita pun dituntut untuk mengetahui parameter air agar tumbuhan yang berada dalam aquarium tersebut mampu bertumbuh dan berkembang dan mampu beradaptasi di dalam air. Tingkat kesulitan yang begitu tinggi merupakan tantangan bagi para hobiis untuk terus mencoba menaklukannya hingga berhasil.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesabaran , ketekunan dan pengetahuan dalam ber- aquascaping sangatlah diperlukan dalam memulai hobi ini. ketiga hal diatas merupakan hal mutlak yang harus ada di benak para pemain. Setelah ketiga hal diatas, barulah dimulai ke tahap berikutnya, yakni pembenahan peralatan. Para pemula, terkadang suka menggebu-gebu dalam memulai aquascape. Hal inilah yang menjadi pemicu kegagalan dalam ber-aquascaping. Berikut ini merupakan peralatan mutlak yang digunakan dalam aquascape yakni;</p>
<p>1. 	Aquarium</p>
<p style="text-align:justify;">Aquarium adalah hal utama yang wajib dimiliki sebelum memulai aquascaping ini. berikut ini hal yang perlu diingat dalam menentukan aquarium</p>
<p>-	 Semakin besar aquarium semakin besar pula volume air didalamnya, begitu pula sebaliknya<br />
-	 Semakin besar volume nya, semakin besar pula biaya yang dikeluarkan, begitu pula sebaliknya. Dalam hal ini, tergantung budget dari para hobiis.<br />
-	Semakin besar aquariumnya, semakin mudah para pemain dalam mendekorasi hardscape (kayu, batu, dll) dan tanamannya, begitu pula sebaliknya<br />
-	Semakin besar volume air, parameter air lebih stabil, begitupula sebaliknya. Dalam hal ini, penambahan pupuk dan pemberian karbon dioksida, dll yang akan digunakan nantinya akan menentukan parameter air<br />
-	Semakin besar volume air, semakin tebal kaca yang harus digunakan, begitupula sebaliknya. Dalam hal ini, ketebalan kaca sangatlah berpengaruh dalam menahan beban aquariumnya. </p>
<p style="text-align:justify;">Penentuan volume air dapat ditentukan dari luasan aquarium yang dipakai. Misalnya; untuk aquarium ukuran (p x l x t )cm = 100cm x 50cm x 50cm, memiliki volume 250.000cm3 = 250 liter </p>
<p>2.	Pupuk</p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya, pupuk mengandung nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dan hal tersebut juga berlaku pada tanaman di aquascape. Di dunia aquascape tersedia bermacam-macam jenis pupuk, baik berupa padatan (substrat dasar) maupun cairan.</p>
<p>3.	Substrat</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat berbagai substrat yang ditawarkan dalam hobi aquascape. Dalam dunia aquascape terdapat bermacam-macam substrat diantaranya, yakni; pasir silika, pasir malang, tanah sawah hingga substrat khusus yang digunakan untuk aquascape (ADA soil, Nisso soil, Azoo soiil, dll). Masing – masing substrat memiliki kelebihan dan kekurangannya, secara umum akan dibagi dalam beberapa point, diantaranya;</p>
<p>A.	Substrat khusus aquascape (ADA soil, Nisso soil, Azoo soil, dll)<br />
a.	Kelebihan 	:<br />
-	Tidak memerlukan tambahan pupuk pada setup awal, dikarenakan substrat khusus jenis ini sudah mengandung elemen penting yang menunjang untuk kebutuhan tanaman.<br />
-	Substrat mampu menahan dan menstabilkan Ph antara 5.5 – 7, yang notabenenya sangat dibutuhkan oleh tanaman<br />
b.	Kekurangan:<br />
-	Dalam jangka panjang( &gt; 6 bulan ), butiran akan hancur, kemampuan untuk menahan Ph antara 5.5 &#8211; 7 akan semakin berkurang, dan beberapa jenis substrat khusus ini akan menyebabkan air menjadi berwarna kuning<br />
-	Harga yang ditawarkan lebih mahal dibandingkan substrat lainnya<br />
B. Pasir Silika, Pasir Malang<br />
a.	Kelebihan	:<br />
-	Ukuran granule bervariasi<br />
-	Dalam jangka waktu panjang, butiran tidak akan hancur<br />
b.	Kekurangan	:<br />
-	Harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan substrat khusus aquascape<br />
-	Tidak dapat menahan ph diantara 5.5 – 7<br />
-	Diperlukan pupuk (N, P, K) untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan tanaman.</p>
<p>4. 	Tanaman</p>
<p style="text-align:justify;">Pemilihan jenis tanaman sangatlah berpengaruh terhadap keindahan aquascape.  Berdasarkan posisinya, tanaman di aquascape dibagi menjadi 3, yakni;</p>
<p>-	Foreground (Depan)</p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya tanaman yang menghiasi di bagian terdepan adalah tanaman yang berbentuk seperti karpet (merambat kiri-kanan). Jenis tanaman yang biasanya menghiasi bagian terdepan, yakni; Hemianthus cuba, Glossostigma elatinoides, dll.</p>
<p>-	Midground (Tengah)</p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya tanaman yang menghiasi bagian tengah adalah tanaman yang tidak terlalu tinggi dan menutupi bagian background (belakang). Jenis tanaman yang biasanya menghiasi bagian tengah, yakni; Eleocharis sp, staurogyne sp, dll.</p>
<p>-	Background (Belakang)</p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya tanaman yang menghiasi bagian belakang adalah tanaman yang menjulang tinggi. Jenis tanaman yang biasanya menghiasi bagian belakang, yakni; Eleocharis vivipara, Valisneria nana, dll. </p>
<p style="text-align:justify;">NB: Pembagian posisi diatas tergantung dari dekorasi masing-masing pemain.  Yang terpenting dalam pembagian posisinya harus disesuaikan tinggi-pendeknya suatu tanaman. Hal ini untuk menghindari penghalangan tanaman disetiap posisi tanaman.</p>
<p>Terdapat bermacam-macam tanaman yang dijual baik di toko ikan maupun di jejaring forum komunitas aquascape. </p>
<p>5. 	Lampu</p>
<p style="text-align:justify;">	Tanaman membutuhkan fotosintesis agar dapat bertumbuh dan berkembang. dalam hal ini, peran cahaya matahari sangatlah diperlukan dalam proses fotosintesis tanaman, akan tetapi di dalam aquascape, peran cahaya matahari dapat digantikan oleh cahaya lampu. Setiap tanaman memiliki tingkat rangsangan cahaya yang berbeda-beda untuk tumbuh. Kebutuhan lampu juga disesuaikan dengan volume aquarium dan jenis setup yang akan kita buat. Berdasarkan kebutuhan tanaman akan rangsangan cahaya, tipe cahaya dibagi menjadi 3 kelompok, yakni;</p>
<p>-	High light (tingkat pencahayaan tinggi)<br />
Pada umumnya rentang perbandingan cahaya dengan volume, yakni 1watt / liter.<br />
-	Mid light (tingkat pencahayaan sedang)<br />
Pada umumnya rentang perbandingan cahaya dengan volume, yakni 1/2watt / liter<br />
-	Low light (tingkat pencahayaan rendah)<br />
Pada umumnya rentang perbandingan cahaya dengan volume, yakni 1/4watt/liter</p>
<p>6. Sistem filtrasi</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem filtrasi sangat diperlukan di dalam suatu ekosistem buatan perairan. Terdapat bermacam-macam sistem filtrasi yang digunakan untuk aquascape, diantaranya yakni;</p>
<p>•	Filter Canister (External)<br />
 <div id="attachment_210" class="wp-caption aligncenter" style="width: 259px"><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/canister.png"><img src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/canister.png" alt="" title="Filter Canister" width="249" height="175" class="size-full wp-image-210" /></a><p class="wp-caption-text">Filter Canister</p></div></p>
<p>•	Filter Hang-on<br />
 <div id="attachment_211" class="wp-caption aligncenter" style="width: 159px"><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/hang-on.png"><img src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/hang-on.png" alt="" title="Filter Hang-on" width="149" height="170" class="aligncenter size-full wp-image-211" /></a><p class="wp-caption-text">Filter Hang-on</p></div> </p>
<p>•	Filter Internal<br />
 <div id="attachment_212" class="wp-caption aligncenter" style="width: 165px"><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/internal.png"><img src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/internal.png" alt="" title="Filter Internal" width="155" height="155" class="aligncenter size-full wp-image-212" /></a><p class="wp-caption-text">Filter Internal</p></div></p>
<p>•	Filter Sump<br />
 <div id="attachment_217" class="wp-caption aligncenter" style="width: 353px"><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/sump3.png"><img src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/sump3.png" alt="" title="sump" width="343" height="229" class="aligncenter size-full wp-image-217" /></a><p class="wp-caption-text">Filter Sump</p></div> </p>
<p>•	Undergravel Filter<br />
 <div id="attachment_218" class="wp-caption aligncenter" style="width: 300px"><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/undergravel.png"><img src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/undergravel.png" alt="" title="Filter Undergravel" width="290" height="188" class="aligncenter size-full wp-image-218" /></a><p class="wp-caption-text">Undergravel Filter</p></div> </p>
<p style="text-align:justify;">Dari bermacam-macam filter yang baik untuk aquascape diatas, memiliki fungsi filtrasi yang berbeda-beda pula. Secara umum fungsi filtrasi dibedakan menjadi 3 fungsi, yakni</p>
<p>•  Filter sebagai fungsi mekanik</p>
<p style="text-align:justify;">Fungsi sistem filtrasi mekanik yaitu untuk menyaring semua kotoran/debu dengan mengalirkan air aquarium melewati spon/kapas. Selain membuat air menjadi keruh, kotoran/debu yang menempel di daun akan menghalangi daun menyerap cahaya dan nutrisi sehingga fotosintesis menjadi terhambat.</p>
<p>• Filter sebagai fungsi kimia</p>
<p style="text-align:justify;">Filter bisa menggunakan media khusus (karbon aktif, zeolid, dll) untuk menyerap zat berlebihan yang merugikan maupun yang menguntungkan bagi aquascape. Karena itu, penggunaan media khusus di dalam filter hanya dianjurkan untuk awal-awal setup aquascape (sekitar 1-2 bulan pertama). </p>
<p>• Filter sebagai fungsi biologis</p>
<p style="text-align:justify;">Fungsi biologis dari filter merupakan fungsi yang paling penting untuk menjaga kestabilan air aquascape. Dengan menggunakan bidang yang luas di spon/kapas dalam filter, bakteri bisa hidup dan menempel disana untuk mengurai amonia menjadi bentuk yang lebih aman.<br />
Untuk mengerti bagaimana bakteri tersebut membantu menjaga stabilnya air dalam aquascape maka kita perlu mengerti bagaimana siklus nitrogen secara umum. </p>
<p>7. 	Tabung CO2 / CO2 DIY (Do It Yourself) – Optional Part</p>
<p style="text-align:justify;">Tumbuhan melakukan fotosintesis untuk pertumbuhan, begitu pula pada tumbuhan pada aquascape. Pada saat melakukan fotosintesis, tumbuhan menghirup karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen. Kebutuhan karbon dioksida yang cukup dan stabil jumlahnya dibutuhkan dalam aquascape. Kekurangan dan kelebihan asupan karbon dioksida juga menyebabkan tumbuhnya algae yang diakibatkan tidak konstannya jumlah karbon dioksida di dalam air.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=201&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2011/08/05/jendela-kecil-aquascape/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc8e19fb63284a79aade219ed2a9a51a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bennyyohanespanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/img_1214.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">&#34;Greenland&#34; Iwagumi Tank</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/canister.png" medium="image">
			<media:title type="html">Filter Canister</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/hang-on.png" medium="image">
			<media:title type="html">Filter Hang-on</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/internal.png" medium="image">
			<media:title type="html">Filter Internal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/sump3.png" medium="image">
			<media:title type="html">sump</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2011/08/undergravel.png" medium="image">
			<media:title type="html">Filter Undergravel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mini Project To Complete a Book</title>
		<link>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/04/20/mini-project-to-complete-a-book/</link>
		<comments>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/04/20/mini-project-to-complete-a-book/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 21:42:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennyyohanespanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oceanografi Physic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[QUESTION Mengapa di pesisir pantai terdapat banyak hutan bakau(Rhizopora sp) dan bukan bunga mawar? ANSWER Seperti yang kita ketahui bahwa terdapat perbedaan habitat terhadap tumbuhan bakau(Rhizopora sp) yang hidup di laut dan bunga mawar yang hidup di darat. Dari perbedaan habitat tersebut terdapat keunikan pada kedua lingkungan tersebut yang menyebabkan perbedaan adaptasi yang luas yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=189&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>QUESTION</strong></p>
<p>Mengapa di pesisir pantai terdapat banyak hutan bakau(<em>Rhizopora sp</em>) dan bukan bunga mawar?</p>
<p><strong>ANSWER</p>
<div id="attachment_192" class="wp-caption aligncenter" style="width: 479px"></strong><strong><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/04/bakau-dan-mawar.png"><img class="size-full wp-image-192" title="Bakau dan Mawar" src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/04/bakau-dan-mawar.png" alt="" width="469" height="162" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Bakau dan Mawar</p></div>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang kita ketahui bahwa terdapat perbedaan habitat terhadap tumbuhan bakau(<em>Rhizopora sp</em>) yang hidup di laut dan bunga mawar yang hidup di darat. Dari perbedaan habitat tersebut terdapat keunikan pada kedua lingkungan tersebut yang menyebabkan perbedaan adaptasi yang luas yang dilakukan oleh kedua tumbuhan tersebut untuk bertahan hidup. Beberapa adaptasi yang dilakukan oleh tumbuhan bakau yang tidak dimiliki oleh bunga mawar di perairan air asin, seperti;</p>
<ol>
<li>Bertahan dengan konsentrasi garam tinggi</li>
<li>Pemeliharaan Air Desalinasi</li>
<li>Spesialisasi Akar</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan dibagi beberapa sub point mengenai karakteristik adaptasi kedua tumbuhan tersebut terhadap karakteristik lingkungan perairan laut;</p>
<ol>
A. Kadar Garam (salinitas)
</ol>
<p>A.1 Bakau</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tumbuhan bakau, kemampuan tumbuh pada air asin karena kemampuan akar-akar tumbuhan yang dapat mengeluarkan atau mensekresikan garam. Menurut Johannes (1975), mengatakan bahwa spesies dari genera Rhizopora mempunyai akar-akar yang dapat memisahkan garam. Pemisahan garam terjadi ketika proses penguapan atau transpirasi di daun penguapan daun ini menimbulkan terjadinya tekanan negatif, yang menyebabkan air yang ada di sistem perakaran tertarik ke dekat xylem, dan pada peristiwa ini pula terjadi pemisahan air tawar dari air laut yang ada di membran akar.</p>
<p>A.2 Bunga Mawar</p>
<p style="text-align:justify;">Pada bunga mawar, anatomi daun, batang dan perakaran yang tidak ekstensif membuat tumbuhan ini tidak dapat hidup di daerah pesisir pantai yang pada umumnya air asin.  Selain dari sistem perakarannya, daun pada bunga mawar hanya berfungsi sebagai tempat fotosintesis, dan tidak mempunyai kelenjar sekresi garam sehingga tumbuhan ini tidak mampu hidup di air asin.</p>
<ol>
B. Kandungan Air Tawar
</ol>
<p>B.1 Bakau</p>
<p style="text-align:justify;">Habitat yang dikelilingi oleh air asin, membuat tumbuhan bakau harus beradaptasi untuk mempertahankan kandungan air(bukan air asin) di dalam tubuhnya. Padahal jika ditelusuri lebih lagi, lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Diperlukan adaptasi unik yang perlu dilakukan tumbuhan bakau untuk hidup di lingkungan air asin yang tentunya sangat miskin akan air tawar. Pada hutan bakau, adaptasi untuk mempertahankan kandungan air dilakukan dengan cara membuka bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik. Hal ini membuat tumbuhan bakau dapat mengurangi evaporasi pada daun sehingga kandungan air dapat terjaga.</p>
<p>B.2. Mawar</p>
<p style="text-align:justify;">Habitat di darat, membuat tumbuhan ini terbiasa dengan pemberian/suply dari air tawar. Bunga mawar tidak akan hidup di lingkungan air asin  karena sifatnya yang tergantung akan air(air tawar).</p>
<ol>
C. Pasang Surut
</ol>
<p>C.1 Bakau</p>
<p style="text-align:justify;">Membanjirnya air pasang menggenangi substrat akan mempersukar tumbuhan-tumbuhan biasa untuk hidup di lingkungan seperti ini. Tetapi berbeda dengan halnya pada tumbuhan bakau. Pada tumbuhan bakau, bagian akar yang memanjang dan menjulang di permukaan membuat tumbuhan ini mampu untuk bertahan dari terpaan ombak dan pasang surut yang terjadi di laut. Pada dasarnya sistem perakaran pada tumbuhan bakau mampu mengikat substrat perairan dengan kuat sehingga tumbuhan ini dapat membentuk tegakan yang kuat di perairan. Tumbuh-tumbuhan bakau memiliki akar udara khas yang dijuluki sebagai ‘pneumatofor’ yakni, akar yang tumbuh secara menegak daripada permukaan tanah untuk mendapatkan oksigen. Sistem akar yang khas membuat tumbuhan bakau pun dapat mengambil oksigen dari udara sekalipun terjadi pasang surut.</p>
<p>C.2 Bunga Mawar</p>
<p style="text-align:justify;">Pada bunga mawar, perbedaan ukuran membuat tumbuhan ini tidak dapat hidup di daerah pantai. Apabila terjadi pasang surut, tumbuhan ini akan terendam total dan tidak mampu bertahan untuk mendapatkan udara di atmosfer dan sumber energi (matahari) untuk proses fotosintesis. Akar yang tidak kokoh pada substratnya juga menjadikan alasan bahwa tumbuhan bunga mawar tidak dapat hidup pada perairan laut. Terjadinya ombak pada saat pasang surut  akan membuat tumbuhan ini tumbang/jatuh.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan tempat habitat hidup membuat tumbuhan bunga mawar  dan tumbuhan bakau memiliki karakteristik-karakteristik yang khas untuk bertahan hidup di lingkungannya masing-masing. Tumbuhan bakau dapat hidup di daerah pesisir pantai karena fungsi dari bagian-bagian tubuh mangrove menunjang untuk hidup di lingkungan air asin, sedangkan pada bunga mawar sebaliknya.</p>
<p><strong>Referensi Bacaan</strong></p>
<p>Supriharyono. 2008. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah Pesisir Dan Laut Tropis. Penerbit: Pustaka Pelajar, Jakarta.</p>
<p>Kasijian Romimohtarto &amp; Sri Juwana. 2009. Biologi Laut. Penerbit: Djambatan, Jakarta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=189&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/04/20/mini-project-to-complete-a-book/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc8e19fb63284a79aade219ed2a9a51a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bennyyohanespanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/04/bakau-dan-mawar.png" medium="image">
			<media:title type="html">Bakau dan Mawar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DAFTAR ISTILAH RESUME EKOLOGI LAUT TROPIS</title>
		<link>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/04/13/resume-marine-ecology/</link>
		<comments>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/04/13/resume-marine-ecology/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 14:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennyyohanespanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marine Ecology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Berikut merupakan daftar istilah dari resume materi kuliah ekologi laut tropis http://josuasilitonga.wordpress.com/2010/04/13/resume-marine-ecology/ Abiotik : Komponen tak hidup yang komponen fisik dan kimia terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Dapat dikatakan bahwa abiotik merupakan bahan tak hidup berupa medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Algae : Rumput Laut, Tumbuh-tumbuhan laut yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=152&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut merupakan daftar istilah dari resume materi kuliah ekologi laut  tropis<a href="http://http/josuasilitonga.wordpress.com/2010/04/13/resume-marine-ecology/"> http://josuasilitonga.wordpress.com/2010/04/13/resume-marine-ecology/</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abiotik</strong> : Komponen tak hidup yang komponen fisik dan kimia terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Dapat dikatakan bahwa abiotik merupakan bahan tak hidup berupa medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Algae</strong> : Rumput Laut, Tumbuh-tumbuhan laut yang merupakan tumbuhan berthalus (thallopyta)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Asam Karbonat</strong> : Senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan larutan dengan pH lebih kecil dari 7. Senyawa ini mempunyai rasa asam dan bersifat korosif.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Autotrophic Organism (Organisme autotrof)</strong> : Organisme yang mampu mensistesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dari bahan-bahan anorganik sederhana dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bakteri</strong> : Organisme uniseluler (bersel tunggal), prokariota/prokariot, tidak mengandung klorofil, serta berukuran mikroskopik (sangat kecil)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Biota</strong> : Tumbuh-tumbuhan, hewan dan mikroorganisme hidup</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Biotik</strong> : Komponen hidup yang terdapat dalam alam semesta, misalnya; manusia, hewan, tumbuhan, jamur, bakteri, dll.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cahaya</strong> : Berhubungan dengan sinar</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Coastal Resources Management</strong> : Pengelolaan sumber daya pesisir</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Coastal Zone Management</strong> : Pengelolaan wilayah pesisir</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Coastal Zone Resources Management</strong> : Pengelolaan sumber daya wilayah pesisir</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ekologi</strong> : Ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup, dan interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ekosistem</strong> : Penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik abiotik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ekosistem Lamun</strong> : Tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang mampu beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ekosistem Mangrove</strong> : Hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ekosistem Terumbu Karang</strong> : Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis – jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Eksploitasi</strong> : Pemanfaatan sumberdaya</p>
<p><strong>Erosi</strong> : Proses pengkisan tanah dan tanah tersebut berpindah tempat oleh kekuatan angin, air atau gravitasi</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-152"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Faktor Pembatas</strong> : Jumlah minimum dan maksimum suatu unsur (cahaya, suhu, dan nutrien) yang mempengaruhi proses kehidupan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fitoplankton</strong> : Plankton yang berupa tumbuh-tumbuhan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fosfat</strong> : Senyawa alam yang mempunyai dua bentuk yakni senyawa fosfat Organik (pada tumbuhan) dan senyawa fosfat Anorganik (air dan tanah)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Habitat</strong> : Tempat tinggal makhluk Hidup</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hayati </strong>: Suatu istilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Herbivora </strong>: Hewan pemakan tumbuh-tumbuhan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hukum Toleransi Shelford</strong> : Hukum yang menyatakan tentang suatu toleransi dari jumlah minimum dan maksimum suatu unsur yang mempengaruhi kehidupan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Integrated Coastal Management</strong> : Pengelolaan wilayah pesisir</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Integrated Coastal Resources Management</strong> : Pengelolaan terpadu sumber daya wilayah pesisir</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Integrated Coastal Zone Management (ICZM)</strong> : Pengelolaan terpadu wilayah pesisir</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Integrated Coastal Zone Planning and Management</strong> : Pengelolaan dan perencanaan terpadu wilayah pesisir</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Karbon Dioksida</strong>: Sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelembapan </strong>: Konsentrasi uap air di udara</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Klorofil</strong> : Zat hijau daun yang diperlukan oleh tumbuhan untuk fotosintesis</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Komensalisme</strong> : Sebuah simbiosis<strong> </strong>yang salah satunya diuntungkan dan pihak yang lain tidak diuntungkan dan tidak dirugikan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kompetisi</strong> : Merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Komunitas</strong><em><strong> </strong></em><strong>:</strong> Merupakan kumpulan populasi yang menempati suatu daerah pada suatu waktu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Konsumen </strong>:  Setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Laut Kutub</strong> : Laut yang mempunyai masa produktifitasnya sangat pendek, dikarenakan intensitas cahaya matahari didaerah ini sangat kurang</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Laut Subtropik</strong> : Wilayah laut yang mendapatkan intensitas sinar matahari bervariasi menurut musim (dingin, semi, panas dan gugur)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Laut Tropis</strong> : Wilayah laut yang menadapatkan sinar matahari terus menerus sepanjang tahun, hanya ada dua musim, hujan dan kemarau</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Limbah</strong> : Hasil buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga,dll)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Logam berat</strong>: Logam dengan massa jenis lima atau lebih, dengan nomor atom 22 sampai dengan 92. Logam berat dianggap berbahaya bagi kesehatan bila terakumulasi secara berlebihan di dalam tubuh</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Logos</strong> : Ilmu</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mamalia</strong> : Hewan yang menyusui</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Marine Management Area / Marine Protection Area</strong> : Daerah pengelolaan laut / Daerah perlindungan laut</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mutualisme</strong> : Sebuah simbiosis yang saling menguntungkan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Netral</strong> : Tidak memihak dan berpihak</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Nitrat</strong> : Hasil perubahan senyawa nitrit oleh bakteri</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Nursery Ground</strong> : Tempat untuk bertelur</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Nutrient (Nutrisi)</strong> : Zat hara</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Oikos</strong> : Habitat</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Organism Heterotrof (Organisme Heterotrof) </strong>: Organisme yang mampu menyusun kembali dan menguraikan bahan-bahan organik kompleks yang telah mati ke dalam senyawa anorganik sederhana</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Parasitisme</strong> : Sebuah simbiosis yang salah satunya dirugikan dan yang lainnya diuntungkan misalnya pada simbiosis antara Hewan dan bekteri</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>pH</strong> : Derajat keasaman</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Populasi</strong> : Merupakan kumpulan individu sejenis yang menempati suatu wilayah dalam kurun waktu-tertentu yang saling berinteraksi</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Predasi</strong> : Predator atau pemangsa, kematian yang diakibatkan oleh predator (pemangsa)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Predator</strong> : Pemangsa</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Predator Tertinggi</strong> : Pemangsa yang menduduki peringkat teratas pada rantai makanan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Produktivitas</strong> : Kegiatan untuk menghasilkan sesuatu</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Produsen</strong> : Dapat diartikan sebagai penghasil. Produsen dalam ekosistem merupakan organisme (tumbuhan hijau atau tumbuhan yang mempunyai klorofil) yang mampu menghasilkan zat makanan sendiri (autotrof) melalui fotosintesis</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Relung (Niche)</strong> : Sebuah konsep yang dikembangkan oleh Charles Elton (1927), yang berarti ruang/tempat yang ditinggali organisme, juga peranannya dalam komunitas, dan posisinya pada gradient lingkungan: temperatur, kelembaban, pH, tanah dan kondisi lain</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Respirasi</strong> : Suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sedimentasi</strong> : Suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Senyawa Organoklorin</strong> : Senyawa sintetik yang mempunyai aktifitas spektrum sangat luas, bersifat apolar dan persisten</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Siklus Biogeokimia (Siklus Organik Anorganik)</strong> : Siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Siklus Fosfor</strong> : Siklus biogeokimia dimana fosfor dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer dan atmosfer bumi</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Siklus Mineral</strong> : Siklus biogeokimia dimana mineral dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer dan atmosfer bumi</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Siklus Nitrogen</strong> : Siklus biogeokimia dimana Nitrogen dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer dan atmosfer bumi</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Suhu</strong> : Berhubungan dengan temperatur</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Suksesi</strong> : Perubahan akibat suatu kondisi alam ataupun karena ulah manusia</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Temperatur</strong> : Berhubungan dengan suhu</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Topografi</strong> : Studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain seperti planet, satelit alami (bulan dan sebagainya) dan asteroid</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Trofik</strong> : Tingkatan makan-memakan pada suatu ekosistem</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif)</strong> : Zona yang luasnya 200 mil dari garis dasar pantai, yang mana dalam zona tersebut sebuah negara pantai mempunyai hak atas kekayaan alam di dalamnya, dan berhak menggunakan kebijakan hukumnya, kebebasan bernavigasi, terbang di atasnya, ataupun melakukan penanaman kabel dan pipa.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=152&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/04/13/resume-marine-ecology/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc8e19fb63284a79aade219ed2a9a51a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bennyyohanespanjaitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Study Case&#8221; Konversi Lahan Pesisir di Pulau S</title>
		<link>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/03/30/study-case-konversi-lahan-pesisir-di-pulau-s/</link>
		<comments>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/03/30/study-case-konversi-lahan-pesisir-di-pulau-s/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 06:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennyyohanespanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marine Ecology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat ini perbedaan antara kebutuhan ekonomi dan pentingnya ekologi menjadi sangat kabur. Pada saatnya kebutuhan manusialah yang diutamakan untuk diselesaikan. Salah satu contoh yang dapat dilihat adalah penanganan kasus lumpur yang terjadi di Indonesia baru-baru ini. Kasus pada saat ini seperti terlihat pada gambar disamping, dimana terdapat paparan hutan bakau dan tambak masyarakat. Pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=72&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/atas.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-100" title="atas" src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/atas.png?w=244&#038;h=150" alt="" width="244" height="150" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat ini perbedaan antara kebutuhan ekonomi dan pentingnya ekologi menjadi sangat kabur. Pada saatnya kebutuhan manusialah yang diutamakan untuk diselesaikan. Salah satu contoh yang dapat dilihat adalah penanganan kasus lumpur  yang terjadi di Indonesia baru-baru ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kasus pada saat ini seperti terlihat pada gambar disamping, dimana terdapat paparan hutan bakau dan tambak masyarakat. Pada bagian bawah tambak telah diubah menjadi lahan kelapa sawit. Lahan hutan bakau yang semula hampir 1000 hektar telah diubah penggunaannya menjadi lahan budidaya ikan di tambak dan kemudian diubah lagi menjadi lahan kelapa sawit sebesar 90-110 hektar. Pada hutan mangrove ini terdapat 2 aliran besar yang membelah mangrove seperti sungai untuk masuk dan keluarnya air pasang surut. Di sungai ini banyak terdapat ikan-ikan yang memijah alami sehingga nelayan tradisional juga sering mengambil ikan dengan menjaring.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan perubahan fungsi lahan apakah rantai makanan, rantai energi, dan siklus pemangsa dan dimangsa juga berubah. Kemungkinan yang pertama adalah dengan menggambarkan rantai makanan pada saat lahan tersebut belum dikonversi, kemudian menggambarkan siklus juga setelah lahan dikonversi. Kemungkinan yang lain adalah dengan mengetahui pemangsa-pemangsa yang baru yang ada di wilayah itu.</p>
<p style="text-align:left;">Referensi :<br />
Noir P. Poerba. 2010. Study Case</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-72"></span></p>
<p><strong>Menganalisa Rantai Makanan Konversi Lahan Mangrove di Pulau S</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Permasalahan dan Pembahasan</p>
<p>1.1 Permasalahan<br />
1.1.1 Rantai makanan, rantai energi, dan siklus pemangsa dan dimangsa pada hutan mangrove sebelum dikonversi<br />
1.1.2 Alasan konversi lahan mangrove menjadi lahan pertambakan<br />
1.1.3 Dampak rantai makanan, rantai energi, dan siklus pemangsa dan dimangsa setelah lahan mangrove dikonversi menjadi lahan pertambakan<br />
1.1.4 Alasan konversi lahan pertambakan menjadi lahan kelapa sawit<br />
1.1.5 Dampak rantai makanan, rantai energi, dan siklus pemangsa dan dimangsa setelah lahan tambak dikonversi menjadi lahan kelapa sawit.</p>
<p>1.2 Pembahasan<br />
1.2.1 Rantai makanan, rantai energi, dan siklus pemangsa dan dimangsa pada hutan mangrove sebelum dikonversi</p>
<div id="attachment_156" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/untitled11.png"><img class="size-medium wp-image-156" title="Untitled1" src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/untitled11.png?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Ekosistem Mangrove</p></div>
<p style="text-align:justify;">Dalam ekosistem mangrove terjadi rantai makanan/aliran energy dan siklus biogeokimia. Aliran energi sangat berpengaruh dalam rantai makanan mangrove. Siklus energi berperan dalam proses fotosintesis ke tanaman mangrove dan fitoplankton. Selanjutnya siklus energi ini secara berantai menjadikan suatu proses makan memakan pada rantai makanan. Rantai makanan pada mangrove dimulai dari tumbuhan hijau sebagai sumber energi utama (produsen) bagi ekosistem mangrove. Selanjutnya rantai makanan dilanjutkan oleh bakteri dan fungi yang secara langsung menguraikan senyawa organik (detritus) yang berasal dari penghancuran luruhan daun dan ranting mangrove yang jatuh ke substrat padat (tanah) dan substrat perairan pada ekosistem mangrove, maka dapat dikatakan organisme ini sebagai produsen utama dan ditempatkan pada tingkatan trofik kedua di dalam jaring makanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada mangrove, rantai makanan pada substrat padat dan substrat perairan sangatlah berhubungan. Untuk lebih jelasnya, akan dibagi 2 rantai makanan berdasarkan substratnya, yakni;</p>
<p>1. Substrat Padat</p>
<p style="text-align:justify;">Pada substrat padat (tanah), dedaunan dan ranting ini akan membusuk oleh bakteri dan fungi yang kemudian akan menghasilkan detritus. Hancuran bahan organik (detritus) yang telah diperkaya oleh nitrogen ini kemudian menjadi sumber nutrien mangrove itu sendiri dan menjadi bahan makanan penting bagi hewan pemakan detritus (cacing dan hewan invertebrata lainnya). Kemudian cacing dan hewan avertebrata lainnya akan dimakan oleh karnivor tingkat sedang, yang selanjutnya akan dimakan oleh karnivor tingkat tinggi. Tingkatan karnivor pada substrat ini pada umumnya berlangsung pada jenis insekta, burung, dll.</p>
<p>2. Substrat Perairan</p>
<p style="text-align:justify;">Pada substrat perairan, proses pembusukan menjadi detritus berlangsung lebih cepat dibandingkan proses pembusukan pada substrat padat. Sistem akar pada mangrove yang padat menyebabkan sedimen yang mengandung unsur hara, terperangkap. Sehingga daerah perairan menjadi kaya akan nutrien dan tentunya menjadi sumber makanan penting bagi biota perairan mangrove. Pada substrat perairan, dedaunan dan ranting yang jatuh ke perairan wilayah mangrove akan membusuk didalam perairan. Dedaunan dan ranting yang telah membusuk ini akan menjadi nutrien bagi fitoplankton yang tumbuh di dasar perairan. Peristiwa makan dan dimakan dimulai dari fitoplankton yang dimakan oleh zooplankton. Kemudian zooplankton ini akan dimakan oleh karnivor tingkat sedang yang selanjutnya oleh karnivor tingkat tinggi. Tingkatan karnivor pada substrat perairan umumnya berlangsung pada jenis udang, kepiting, dan ikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tingkatan-tingkatan konsumer pada kedua substrat pada umumnya diurutkan berdasarkan kebiasaan makan dan ukuran dari organisme konsumen. Pada kedua substrat tersebut, bukan berarti rantai makanan tersebut tidak saling berhubungan. Tidak menutup kemungkinan peristiwa rantai makanan terjadi pada karnivor substrat padat memakan karnivor substrat perairan ataupun sebaliknya. Dapat dikatakan bahwa terjadi hubungan antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik.</p>
<p>Kasus 1<br />
1.2.2 Alasan konversi lahan mangrove menjadi pertambakan</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang menyebabkan terjadinya konversi lahan mangrove sebesar 1000 hektar menjadi tambak adalah karena hutan mangrove yang mengalami penurunan produktivitas akibat pemanfaatan atau pengeksploitasian ekosistem mangrove secara besar-besaran oleh masyarakat pesisir tanpa diikuti proses rehabilitasi kembali ekosistem mangrove tersebut. Alasan ini diperkuat oleh faktor ekonomi masyarakat pesisir Indonesia yang masih berada digaris kemiskinan. Dahulu masyarakat pesisir pulau S bisa dengan mudah mendapatkan komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan sehari-sehari maupun untuk diperdagangkan dari hutan mangrove ini, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, potensial produktivitas mangrove mengalami penurunan sehingga masyarakat pesisir pulau S memilih alternatif pengalihan fungsi lahan mangrove menjadi pertambakan. Pengalihan fungsi lahan berdampak langsung kepada perubahan rantai makanan ekosistem mangrove menjadi rantai makanan ekosistem lahan yang baru.</p>
<p>1.2.3 Dampak rantai makanan,siklus energi dan siklus pemangsa dan dimangsa pada konversi lahan mangrove menjadi pertambakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa alasan pengkonversian lahan mangrove adalah karena penurunan dari produktifitas sebagai akibat dari pengeksploitasian ekosistem mangrove secara besar-besaran sehingga pengaruh rantai makanan ekosistem mangrove pun menjadi terganggu.</p>
<p style="text-align:center;">Kondisi bagan rantai makanan mangrove pulau S</p>
<div id="attachment_159" class="wp-caption aligncenter" style="width: 530px"><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/untitled2.png"><img class="size-full wp-image-159" title="Bagan Rantai Makanan" src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/untitled2.png" alt="" width="520" height="174" /></a><p class="wp-caption-text">Bagan Rantai Makanan</p></div>
<p style="text-align:center;">Kondisi bagan rantai makanan setelah dikonversi</p>
<div id="attachment_167" class="wp-caption aligncenter" style="width: 606px"><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/2.png"><img class="size-full wp-image-167" title="Bagan Rantai Makanan Setelah Konversi " src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/2.png" alt="" width="596" height="232" /></a><p class="wp-caption-text">Bagan Rantai Makanan Setelah Konversi </p></div>
<p style="text-align:justify;">Dari kedua kondisi bagan diatas, dapat disimpulkan bahwa kondisi rantai makanan pada keduanya mengalami perubahan dikarenakan pengalihan fungsi total yang terjadi pada lahan mangrove seluas 1000 hektar ke pertambakan. Berikut ini akan dibagi beberapa sub point perubahan pada  rantai makanan lahan pertambakan yang mengalami perubahan:</p>
<p>1.	Produsen</p>
<p style="text-align:justify;">Produsen tidak terdapat pada bagan yang kedua (pertambakan) dikarenakan pengalihan fungsi total lahan mangrove menjadi lahan pertambakan.</p>
<p>2. Sumber penghasil detritus</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber penghasil detritus pada lahan pertambakan, yaitu feses ikan. Dari feses ikan ini akan terurai oleh bakteri yang kemudian menjadi makanan konsumen tingkat rendah.</p>
<p>3. Konsumen tingkat rendah</p>
<p style="text-align:justify;">Konsumen tingkat rendah mendapatkan makanan dari detritus yang terurai oleh bakteri yang nantinya akan menjadi suplai makanan untuk konsumen tingkat sedang.</p>
<p>4. Konsumen tingkat sedang</p>
<p style="text-align:justify;">Konsumen tingkat sedang mendapatkan makanan dari konsumen tingkat rendah (cacing atau hewan invertebrata lainnya). Konsumen tingkat sedang juga memperoleh suplai makanan dari pengaruh luar (pengelola pertambakan) tersebut berupa pakan. Konsumen tingkat sedang ini diduduki oleh organisme dari pertambakan (ikan, udang, dll).</p>
<p>5. Konsumen tingkat tinggi</p>
<p style="text-align:justify;">Pada konsumen tingkat tinggi (pertambakanan) akan diduduki oleh manusia dan organisme penggangu pertambakan seperti burung (jumlah populasi burung akan menurun pada lahan pertambakan dibandingkan populasi burung di lahan mangrove).</p>
<p>Kasus 2<br />
1.2.4. Alasan konversi lahan mangrove menjadi pertambakan</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang menjadi alasan konversi lahan pertambakan sebesar 90-110 hektar ke perkebunan kelapa sawit dikarenakan masyarakat di pesisir pulau S yang melihat cerahnya prospek hasil perkebunan kelapa sawit. Alasan ini diperkuat karena harga dari penjualan minyak kelapa sawit di Indonesia yang pada saat ini sangat menguntungkan untuk dikembangkan oleh masyarakat pesisir pulau S maupun perusahaan swasta dan tentunya pada kasus ini, kelapa sawit berproduksi lebih tinggi dibandingkan dengan hasil produksi dari pertambakan. Terlebih lagi untuk memulai penanaman produksi kelapa sawit cukup murah, hanya memiliki syarat tanah liat gembur dan tanah gambut yang memiliki pengairan cukup bagus seperti yang terjadi pada kasus lahan pertambakan dan perkebunan kelapa sawit ini.</p>
<p>1.2.5 Dampak rantai makanan,siklus energi dan siklus pemangsa dan dimangsa pada konversi lahan pertambakan menjadi lahan kelapa sawit.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengalihan luas sebesar 90-110 hektar ini berdampak langsung kepada hasil produksi pertambakan. Berikut ini akan dibagi beberapa sub point dari dampak negatif konversi pertambakan menjadi perkebunan kelapa sawit:</p>
<p>1. Pupuk dan Pestisida</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu syarat dari perkebunan kelapa sawit yang memadai adalah tanah yang subur dan gembur. Dari syarat tersebut, terdapat beberapa kemungkinan yang dilakukan oleh masyarakat pengolah perkebunan kelapa sawit, yaitu penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebih untuk mendapatkan biji kelapa sawit yang baik. Dalam penggunaan pupuk dan pestisida berlebih ini, mengakibatkan tersisanya penggunaan pupuk dan pestisida pada tanah. Pupuk yang tersisa tadi terbawa kepada aliran air pertambakan yang berada di sekitar lahan kelapa sawit sehingga menyebabkan matinya ekosistem pertambakan.</p>
<p>2. Aliran air.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelapa sawit merupakan tanaman yang membutuhkan air yang cukup banyak. Dari aliran air ini dapat dianalisa bahwa terjadi penyerapan yang banyak pada area sekitar pertambakan ke lahan perkebunan. Hal ini menyebabkan lahan pertambakan menjadi kering pada musim kemarau karena penyerapan oleh perkebunan kelapa sawit yang sangat banyak.</p>
<p>3. Hama perkebunan kelapa sawit</p>
<p style="text-align:justify;">Hama yang terdapat pada kelapa sawit seperti tikus dan ular mempengaruhi ekosistem area pertambakan. Hal ini menyebabkan rantai makanan pada pertambakan akan terganggu.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dampak dari konversi lahan mangrove ke lahan pertambakan terjadi perubahan rantai makanan total dikarenakan pengalihan fungsi total yang terjadi pada lahan mangrove seluas 1000 hektar ke pertambakan.  Hal ini berbeda sekali dengan pengkonversian lahan pertambakan sebesar 90-110 hektar ke lahan kelapa sawit yang rantai makanan pada lahan tersebut masih berhubungan. Keterkaitan rantai makanan pada lahan pertambakan ke lahan kelapa sawit masih sangat berhubungan dikarenakan pengkonversian ke lahan kelapa sawit hanya sebesar 90-110 hektar, walaupun seiring dengan berjalannya waktu, ekosistem dan rantai makanan pada lahan pertambakan tersebut akan hancur.</p>
<p>Referensi Bacaan:</p>
<p>Abdul Hakim. 2010. Dampak Penerapan Kebijakan Konversi Hutan Pada Kerusakan Lingkungan (Studi Kasus Pelepasan Kawasan Hutan untuk Perkebunan Kelapa Sawit). http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/16/15cb03ade6bb79a61339ce703ea92fbcfaedabd2.pdf. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010</p>
<p>Agus Salim. 2010. Konservasi Mangrove Sebagai Pendukung Sumber Hayati Perikanan Pantai. http://www.scribd.com/doc/22477294/Konservasi-Mangrove-Sebagai-Pendukung-Sumber-Hayati-Perikanan-Pantai. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010</p>
<p>Edy Purwanto. 2010. Mencermati Konversi Hutan Alam Menjadi Kebun Kelapa Sawit. http://epurwanto.wordpress.com/2008/04/21/mencermati-konversi-hutan-alam-menjadi-kebun-kelapa-sawit/. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010</p>
<p>Endang Hilmi&amp;Parengrengi. 2010. Kerusakan Ekosistem Mangrove di Indonesia. http://www.scribd.com/doc/11592887/Kerusakan-Ekosistem-Mangrove-Di-Indonesia. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010</p>
<p>Supriharyono. 2008. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah Pesisir Dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar, Jakarta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=72&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/03/30/study-case-konversi-lahan-pesisir-di-pulau-s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc8e19fb63284a79aade219ed2a9a51a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bennyyohanespanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/atas.png?w=244" medium="image">
			<media:title type="html">atas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/untitled11.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Untitled1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/untitled2.png" medium="image">
			<media:title type="html">Bagan Rantai Makanan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/2.png" medium="image">
			<media:title type="html">Bagan Rantai Makanan Setelah Konversi </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STUDI KASUS EKOSISTEM MANGROVE DI PALABUHAN RATU KAB. SUKABUMI</title>
		<link>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/03/29/studi-kasus-mangrove-di-palabuhan-ratu/</link>
		<comments>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/03/29/studi-kasus-mangrove-di-palabuhan-ratu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2010 17:58:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennyyohanespanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marine Ecology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Benny Yohanes  230210080027 Josua Leo Petra 230210080005 Universitas Padjajaran Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Program Studi Ilmu Kelautan EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI PESISIR PANTAI PALABUHAN RATU Wilayah Kabupaten Sukabumi berada pada posisi 6057’-7025’ Lintang Selatan dan 106049’-107000’ bujur timur. Dengan batas  wilayah di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bogor, di sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=75&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Benny Yohanes  230210080027</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://josuasilitonga.wordpress.com/2010/03/29/studi-kasus-ekosistem-hutan-mangrove-di-palabuhan-ratu-2/" target="_blank">Josua Leo Petra</a> 230210080005</p>
<p style="text-align:center;">Universitas Padjajaran</p>
<p style="text-align:center;">Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan</p>
<p style="text-align:center;">Program Studi Ilmu Kelautan</p>
<p style="text-align:center;"><strong>EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI PESISIR PANTAI PALABUHAN RATU</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Wilayah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sukabumi" target="_blank">Kabupaten Sukabumi </a>berada pada posisi 6<sup>0</sup>57’-7<sup>0</sup>25’ Lintang Selatan dan 106<sup>0</sup>49’-107<sup>0</sup>00’ bujur timur. Dengan batas  wilayah di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bogor, di sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, Kabupaten Cianjur di sebelah Timur, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak. Dari letaknya yang berada di pantai selatan Pulau Jawa, membuat Teluk Palabuhan Ratu ini berhubungan langsung dengan Samudera Hindia sekaligus menjadi tempat bermuaranya sungai-sungai.</p>
<p><a></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/lokasi1.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-117" title="lokasi" src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/lokasi1.png" alt="" width="443" height="368" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Karakteristik umum oseanografi wilayah pesisir Sukabumi adalah kondisi Samudera Hindia, dengan ciri batimetri laut dalam, berombak besar dan keadaan arus yang dipengaruhi oleh pasang surut, angin, densitas serta pengaruh masukan air dari muara sungai. Jika dilihat dari segi karakteristik umum oseanografi wilayah pesisir Sukabumi ini, sangatlah dibutuhkan peran sumberdaya hayati seperti mangrove dan terumbu karang, mengingat fungsi sumberdaya hayati tersebut sangatlah berarti dalam melindungi daerah pesisir pantai Sukabumi dari abrasi laut.</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-75"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_bakau" target="_blank">Hutan mangrove</a> adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut. Jenis-jenis tumbuhan mangrove yang ada di Kabupaten Sukabumi adalah jenis <em>Xylocarpus sp</em><em>,</em><em> Heritiera s</em><em>p</em><em>, Avicennia sp, Sonneratia sp, Rhizophora sp, Bruguiera sp.</em></p>
<p><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/akar.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-139" title="AKAR" src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/akar.png?w=351&#038;h=209" alt="" width="351" height="209" /></a></p>
<p>A. Akar papan (banir)</p>
<p style="text-align:justify;">Pada <em>Xylocarpus granatum </em>dan <em>Heritiera </em>akar horizontal tumbuh melebar ke atas membentuk akar pipih seperti papan. Bagian vertikal berguna untuk aerasi dan berpijak di tanah lumpur (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).</p>
<p>B. Akar pasak</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Pada <em>Avicennia </em>dan <em>Sonneratia</em>, pneumatofora merupakan cabang tegak dari akar horizontal yang tumbuh di bawah tanah. Pada <em>Avicennia </em>bentuknya seperti pensil atau pasak, umumnya hanya setinggi 30 cm, sedangkan pada <em>Sonneratia </em>dapat membentuk massa kayu setinggi 3 m, kebanyakan setinggi 50 cm (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).<strong> </strong></p>
<p>C. Akar penyangga (sangga)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Pada <em>Rhizophora </em>akar panjang dan bercabang-cabang muncul dari pangkal batang. Akar ini dikenal sebagai prop root<em> </em>dan pada akhirnya akan menjadi stilt root<em> </em>apabila batang yang disangganya terangkat hingga tidak lagi menyentuh tanah. Akar ini memiliki pangkal yang luas untuk aerasi dan bertahan di lumpur (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).<strong> </strong></p>
<p>D. Akar lutut</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Pada <em>Bruguiera </em><em> </em>akar horizontal tumbuh sedikit di bawah permukaan tanah, dan secara teratur dan berulang-ulang tumbuh ke atas lalu kembali ke bawah, sehingga berbentuk seperti lutut yang ditekuk. Bagian di atas tanah (lutut) untuk aerasi dan bertahan di lumpur.  (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Mangrove tumbuh subur di wilayah pesisir pantai Sukabumi. Seperti keterangan diatas salah satu karakteristik oseanografi Kabupaten Sukabumi dipengaruhi oleh masukan air muara sungai. Hal ini menandakan bahwa wilayah pesisir Kabupaten Sukabumi bersubstrat lumpur-berpasir. Perairan yang kaya unsur hara dari aliran muara sungai dan substrat ini merupakan kondisi lingkungan yang mendukung untuk tumbuh suburnya vegetasi mangrove.</p>
<p style="text-align:justify;">Hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Sukabumi tersebar di sepuluh kecamatan yang merupakan kecamatan pesisir, yakni; Kecamatan Cisolok, Cikakak, Palabuhan Ratu, Simpenan, Ciemas, Ciracap, Surade, Cikepuh Pangumbahan, Cibitung dan Tegal Buleud. Adapun kecamatan yang secara administrasi berbatasan dengan Teluk Palabuhan Ratu diantaranya terdiri dari 5 kecamatan, yakni; Kecamatan Cisolok, Cikakak, Palabuhan Ratu, Cikepuh Pangumbahan dan Simpenan. Namun potensi koloni hutan mangrove yang terbesar hanya terdapat di kecamatan Cikepuh Pangumbahan, sedangkan di kecamatan lainnya hanya bersifat setempat dengan jumlah pohon mangrove yang sedikit.</p>
<p><strong>ALIRAN ENERGI DAN RANTAI MAKANAN PADA EKOSISTEM MANGROVE</strong></p>
<p><a></a></p>
<p><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/rantai-makanan.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-116" title="Rantai makanan" src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/rantai-makanan.png?w=371&#038;h=178" alt="" width="371" height="178" /></a></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ekosistem mangrove terjadi<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rantai_makanan"> rantai makanan</a>/aliran energy dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_karbon" target="_blank">siklus biogeokimia</a>. Daun tumbuhan mangrove (substrat padat) dan fitoplankton (substrat perairan), sebagaimana semua tumbuhan hijau, menggunakan sinar matahari untuk mengubah karbon dioksida menjadi senyawa organik melalui proses fotosintesis. Karbon yang diserap tumbuhan selama fotosintesis, bersama-sama dengan nutrien (Karbon, Nitrogen, Phosfat) yang diambil dari tanah, menghasilkan bahan baku untuk tumbuhan. Siklus energi ini secara berantai menjadikan suatu proses makan memakan pada rantai makanan. Berikut ini akan dijabarkan secara terperinci rantai makanan yang terjadi pada ekosistem mangrove;</p>
<p>1. Produsen</p>
<p style="text-align:justify;">Produsen pada mangrove diduduki oleh tumbuhan hijau (substrat padat) dan fitoplankton (substrat perairan) sebagai sumber energi utama (produsen) pada ekosistem mangrove. Tumbuhan hijau dan fitoplankton ini menempati posisi terbawah dan pertama dalam trofik rantai makanan.</p>
<p><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/produsen.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-122" title="produsen" src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/produsen.png?w=322&#038;h=120" alt="" width="322" height="120" /></a></p>
<p>2. Konsumen Tingkat Rendah</p>
<p style="text-align:justify;">Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivor yang menempati Konsumen Tingkat Rendah. Konsumen Tingkat Rendah diduduki oleh binatang-binatang averterbrata, contoh; cacing pada substrat padat dan zooplankton pada substrat perairan.</p>
<p><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/rendah1.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-126" title="rendah" src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/rendah1.png" alt="" width="311" height="103" /></a></p>
<p>3. Konsumen Tingkat Sedang</p>
<p style="text-align:justify;">Rantai pemangsa Konsumen Tingkat Sedang diduduki oleh hewan yang bersifat karnivor. Konsumen Tongkat Sedang ini berlangsung pada jenis insekta, udang, kepiting, dan ikan.</p>
<p><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/sedang.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-127" title="sedang" src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/sedang.png?w=375&#038;h=95" alt="" width="375" height="95" /></a></p>
<p>4. Konsumen Tingkat Tinggi</p>
<p style="text-align:justify;">Rantai pemangsa Konsumen Tingkat Tinggi diduduki oleh manusia yang memanfaatkan ekosistem dari mangrove atau hewan yang bersifat karnivor seperti burung, dan ikan besar.</p>
<p><a href="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/tinggi.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-128" title="tinggi" src="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/tinggi.png?w=387&#038;h=97" alt="" width="387" height="97" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Tingkatan-tingkatan konsumer pada kedua substrat pada umumnya diurutkan berdasarkan kebiasaan makan dan ukuran dari organisme konsumen. Rantai makanan pada mangrove dipengaruhi oleh kedua substrat yang berlainan pada mangrove tersebut. Tidak menutup kemungkinan peristiwa rantai makanan terjadi pada karnivor substrat padat memakan karnivor substrat perairan ataupun sebaliknya.  Dapat dikatakan bahwa terjadi hubungan antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik.</p>
<p>Referensi Bacaan:</p>
<p style="text-align:justify;">Anonim. 2010. <em>Rantai Makanan Mangrove</em>. <a href="http://www.scribd.com/doc/21375964/Rantai-Makanan-Mangrove">http://www.scribd.com/doc/21375964/Rantai-Makanan-Mangrove</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Anonim. 2010. Karakteristik Sumberdaya Pesisir dan Laut Kawasan Teluk Palabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi. <a href="http://komitmenku.files.wordpress.com/2008/06/20040123-karakteristik-sumberdaya-pesisir-dan-laut-kawasan-teluk-palabuhanratu-kabupaten-sukabumi.pdf">http://komitmenku.files.wordpress.com/2008/06/20040123-karakteristik-sumberdaya-pesisir-dan-laut-kawasan-teluk-palabuhanratu-kabupaten-sukabumi.pdf</a></p>
<p style="text-align:justify;">Anonim. 2010. Habitat Reliks Vegetasi Mangrove di Pantai Selatan Jawa. <a href="http://www.unsjournals.com/D/D0302/D0302pdf/D030206.pdf">http://www.unsjournals.com/D/D0302/D0302pdf/D030206.pdf</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=75&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2010/03/29/studi-kasus-mangrove-di-palabuhan-ratu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc8e19fb63284a79aade219ed2a9a51a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bennyyohanespanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/lokasi1.png" medium="image">
			<media:title type="html">lokasi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/akar.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">AKAR</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/rantai-makanan.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Rantai makanan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/produsen.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">produsen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/rendah1.png" medium="image">
			<media:title type="html">rendah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/sedang.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sedang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bennyyohanespanjaitan.files.wordpress.com/2010/03/tinggi.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tinggi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mitigasi Perubahan Iklim</title>
		<link>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2009/12/14/mitigasi-perubahan-iklim/</link>
		<comments>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2009/12/14/mitigasi-perubahan-iklim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 14:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bennyyohanespanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meteorologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2009/12/14/mitigasi-perubahan-iklim/</guid>
		<description><![CDATA[Daftar Pustaka
http://unfccc.int/files/meetings/cop_13/press/application/pdf/sekilas_tentang_perubahan_iklim.pdf 
http://www.godsdirectcontact.org.tw/eng/news/199/so_66.htm
http://famhar.multiply.com/journal/item/103
http://mbojo.wordpress.com/2009/08/29/kontribusi-manusia-terhadap-perubahan-iklim-dan-lingkungan/<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=3&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Benny Yohanes<br />
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan<br />
Jurusan Ilmu Kelautan<br />
Laboratorium Fisika Laut</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Akhir-akhir ini Kopenhagen, Denmark menjadi pusat perhatian publik. Kopenhagen menjadi tempat konferensi perubahan iklim akibat pemanasan global, dan tidak tanggung-tanggung konferensi tersebut dihadiri oleh 119 kepala negara. Sudah separah itukah kerusakan bumi kita? Selama beberapa ratus tahun terakhir, kegiatan manusia telah jelas-jelas mengubah permukaan bumi dan komposisi atmosfernya. Perubahan ini mungkin mengakibatkan atau mengkontribusi pada kenaikan temperatur global yang diamati selama 150 tahun terakhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Gas-gas rumah kaca seperti uap air, karbon dioksida (CO<sub>2</sub>), metana (CH<sub>4</sub>), dan oksida nitrogen (N<sub>2</sub>O) ada secara alamiah di atmosfer tetapi juga dilepaskan dalam jumlah besar. Ketika sebagian besar dari hasil kegiatan industri, pertanian, peternakan, dan bahan bakar fosil terbakar terjadi penambahan konsentrasi gas tersebut di atmosfer yang akan mengintensifkan efek rumah kaca dan menaikkan temperatur global.</p>
<p>Lantas bagaimana pemanasan global bisa terjadi?</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 160px"><img title="Siklus Efek Rumah Kaca" src="http://img42.imageshack.us/img42/5211/10133128036327510111721.jpg" alt="" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Siklus Efek Rumah Kaca</p></div>
<p style="text-align:justify;">Pemanasan global terjadi akibat dari peningkatan efek rumah kaca yang disebebakan oleh naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Semakin tinggi konsentrasi gas rumah kaca maka semakin banyak radiasi panas dari bumi yang terperangkap di atmosfer dan dipancarkan kembali ke bumi. Hal ini menyebabkan peningkatan suhu di permukaan bumi.</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-3"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun banyak terjadi perdebatan diantara para ilmuwan akan kebenaran dari perubahan iklim akibat dari pemanasan global tetapi menurut data yang yang didapat dari UNFCCC (United Nations Framework Conference of Climate Change) efek dari pemanasan global dikemukakan sebagai berikut:</p>
<p>• Meningkatnya pemanasan<br />
• Jumlah karbondioksida yang lebih banyak di atmosfer<br />
• Lebih banyak air, tetapi penyebarannya tidak merata<br />
• Kenaikan permukaan Laut<br />
• Pengurangan tutupan salju<br />
• Gletser yang mencair<br />
• Benua Arktik menghangat</p>
<p style="text-align:justify;">Semua negara di belahan mana pun di dunia ini akan terkena imbas dampak dari pemanasan global. Indonesia yang merupakan salah satu negara ekuator, kepulauan, dan hutan tropis basah terbesar ketiga di dunia, dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang terbesar di dunia, dan digolongkan sebagai salah satu megadiversity country, telah mengalami akibat dari pemanasan global tersebut. Untuk itu diperlukan upaya pencegahan untuk menyelamatkan dunia dari efek pemanasan global tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan hal-hal diatas mitigasi perubahan iklim wajib dilakukan, sebagai langkah preventif. Mitigasi adalah suatu usaha untuk mengurangi akibat/efek dari suatu kondisi/potensi bahaya sebelum bahaya itu muncul. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan. Lantas bagaimana mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang harus kita lakukan?</p>
<p>1. Mereduksi karbon dioksida (CO<sub>2</sub>)</p>
<p style="text-align:justify;">Karbon dioksida atau zat asam arang dengan rumus kimia CO<sub>2</sub> adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Menurut peneliti dari Louisiana Tech University, cara yang paling mudah untuk mereduksi karbon dioksida di udara adalah dengan cara penghijauan / menanam pohon. Penghijauan merupakan salah satu cara untuk mengurangi efek dari pemanasan global yang saat ini dirasakan masyarakat dunia. Dengan makin banyaknya pohon yang ditanam tentunya akan menyerap karbon dioksida di udara melalui fotosintesa.</p>
<p>2. Mereduksi Metana (CH<sub>4</sub>)</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><img title="Siklus tumbuhan menyerap karbon dioksida menjadi oksigen" src="http://img42.imageshack.us/img42/372/misconception05.png" alt="" width="200" height="178" /><p class="wp-caption-text">Siklus tumbuhan menyerap karbon dioksida menjadi oksigen</p></div>
<p style="text-align:justify;">Metana adalah hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas dengan rumus kimia CH<sub>4</sub>. Gas metana umumnya berasal dari pembusukan kotoran dan semua bahan organik. Metana juga dapat ditemukan di ladang minyak, ladang gas bumi, dan juga tambang batu bara. Menurut Dr. Kirk Smith, Profesor Kesehatan Lingkungan Global di Universitas Kalifornia, Berkley, menyatakan bahwa gas metana merupakan salah satu gas dari efek rumah kaca, dimana gas metana 25 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam memberikan kontribusi terhadap efek rumah kaca.  Langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk mereduksi gas metana ini adalah:</p>
<p>i. Sektor Peternakan</p>
<p style="text-align:justify;">Membatasi perkembangan industri  peternakan  hewan. Dengan membatasi perkembangan industri peternakan, setidaknya pembusukan kotoran yang menjadi penghasil gas metana ini dapat diminimaliskan. Hal ini akan berjalan dengan baik apabila penduduk dunia rela untuk mengurangi kebiasan untuk mengkonsumsi daging dan menggantinya dengan mengkonsumsi sayuran (vegetarian). Penerapan teknologi pun ikut ambil bagian dalam mengurangi gas metana dalam emisi gas rumah kaca, seperti yang kita ketahui yaitu penerapan gas metana menjadi Biogas sebagai bahan bakar alternatif.</p>
<p>ii. Sampah</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia dalam setiap kegiatannya hampir selalu menghasilkan sampah. Sampah sendiri turut menghasilkan emisi Efek Rumah Kaca berupa gas metana (CH<sub>4</sub>). Teknologi pengolah sampah, baik dari sisi pemisahan, daur ulang dan penghancuran jelas sangat diperlukan ketika volume sampah makin besar.  Hal yang perlu dilakukan dalam menanggulangi masalah sampah yaitu memisahkan sampah menurut jenisnya guna memanfaatkan sampah yang masih bisa dipakai/didaur ulang, contoh:</p>
<p>- Sampah Organik</p>
<p style="text-align:justify;">Sampah organik (dedaunan atau sisa makanan) bisa digunakan untuk pupuk yang sangat berguna bagi tanaman.</p>
<p>- Sampah Kertas</p>
<p style="text-align:justify;">Sampah kertas bisa diolah kembali menjadi kertas daur ulang dan dapat digunakan sebagai dekorasi atau juga bisa untuk hiasan.</p>
<p>- Sampah lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">Jenis sampah lainnya (kaleng, botol, kendi, dll) bisa diolah ulang menjadi kerajinan tangan seperti vas bunga, tempat pulpen.</p>
<p>3. Peran IPTEK terhadap perubahan iklim</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu catatan dari Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNCCC) di Bali Desember 2007 lalu adalah keinginan negara-negara berkembang untuk mendapatkan transfer teknologi ramah lingkungan dari negara maju guna ikut mensukseskan pengurangan emisi demi mencegah pemanasan global. Hal ini perlu dilakukan mengingat semakin banyak orang yang sudah tidak peduli akan lingkungan, oleh karena itu IPTEK diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam pemanfaatan sumber daya alam yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Berikut ini peran IPTEK terhadap perubahan iklim:</p>
<p>i. Sektor Transportasi</p>
<p style="text-align:justify;">Dewasa ini telah dikenal kendaraan yang ramah lingkungan dan efisien seperti kendaraan bermesin hybrid, kendaraan dengan memanfaatkan sinar matahari, dll. Hal ini sangat membantu meminimaliskan pemakaian bahan bakar fosil yang susah sekali dilepaskan dari pemakai kendaraan.</p>
<p>ii. Sektor informasi dan komunikasi</p>
<p style="text-align:justify;">Komunikasi elektronik akan menjadi sangat ramah lingkungan jika diterapkan dengan tepat. Telekomunikasi akan mengurangi kebutuhan transportasi, berarti hemat energi. Informasi juga dapat disebarkan tanpa kertas (paperless) sehingga mengurangi jumlah pohon yang harus ditebang.</p>
<p style="text-align:justify;">Segelintir orang yang peduli akan lingkungan telah melakukan hal-hal mitigasi seperti diatas dan telah diimplementasikan secara bertahap di kehidupan sehari-hari. Lantas bagaimana dengan kita melihat dunia yang semakin rusak karena aktifitas-aktifitas sehari-hari kita? Langkah-langkah pencegahan ini akan sia-sia saja jika di dalam diri kita tidak ada kemauan yang kuat untuk merubah gaya hidup yang ramah terhadap lingkungan. Sudah saatnya kita mulai berbenah dari gaya hidup lama kita ke gaya hidup yang baru. Langkah-langkah yang terdengar sederhana, tetapi tampaknya sulit diterapkan jika tidak diikuti kesadaran tinggi dari manusia untuk sedikit berkorban demi masa depan Bumi.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi yang lebih baik</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><br />
</strong></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 160px"><img title="Together We Can" src="http://img687.imageshack.us/img687/2069/worldearthday1.jpg" alt="" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Together We Can</p></div>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong><br />
<a href="http://www.godsdirectcontact.org.tw/eng/news/199/so_66.htm" target="_blank">http://www.godsdirectcontact.org.tw/eng/news/199/so_66.htm</a><br />
<a href="http://unfccc.int/files/meetings/cop_13/press/application/pdf/sekilas_tentang_perubahan_iklim.pdf" target="_blank">http://unfccc.int/files/meetings/cop_13/press/application/pdf/sekilas_tentang_perubahan_iklim.pdf</a><br />
<a href="http://famhar.multiply.com/journal/item/103" target="_blank">http://famhar.multiply.com/journal/item/103</a><br />
<a href="http://mbojo.wordpress.com/2009/08/29/kontribusi-manusia-terhadap-perubahan-iklim-dan-lingkungan/" target="_blank">http://mbojo.wordpress.com/2009/08/29/kontribusi-manusia-terhadap-perubahan-iklim-dan-lingkungan/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bennyyohanespanjaitan.wordpress.com&amp;blog=10936513&amp;post=3&amp;subd=bennyyohanespanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bennyyohanespanjaitan.wordpress.com/2009/12/14/mitigasi-perubahan-iklim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc8e19fb63284a79aade219ed2a9a51a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bennyyohanespanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img42.imageshack.us/img42/5211/10133128036327510111721.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Siklus Efek Rumah Kaca</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img42.imageshack.us/img42/372/misconception05.png" medium="image">
			<media:title type="html">Siklus tumbuhan menyerap karbon dioksida menjadi oksigen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img687.imageshack.us/img687/2069/worldearthday1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Together We Can</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
