Benny Yohanes's Blog

welcome to my blog :)

Mitigasi Perubahan Iklim

Benny Yohanes
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Jurusan Ilmu Kelautan
Laboratorium Fisika Laut

Akhir-akhir ini Kopenhagen, Denmark menjadi pusat perhatian publik. Kopenhagen menjadi tempat konferensi perubahan iklim akibat pemanasan global, dan tidak tanggung-tanggung konferensi tersebut dihadiri oleh 119 kepala negara. Sudah separah itukah kerusakan bumi kita? Selama beberapa ratus tahun terakhir, kegiatan manusia telah jelas-jelas mengubah permukaan bumi dan komposisi atmosfernya. Perubahan ini mungkin mengakibatkan atau mengkontribusi pada kenaikan temperatur global yang diamati selama 150 tahun terakhir.

Gas-gas rumah kaca seperti uap air, karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan oksida nitrogen (N2O) ada secara alamiah di atmosfer tetapi juga dilepaskan dalam jumlah besar. Ketika sebagian besar dari hasil kegiatan industri, pertanian, peternakan, dan bahan bakar fosil terbakar terjadi penambahan konsentrasi gas tersebut di atmosfer yang akan mengintensifkan efek rumah kaca dan menaikkan temperatur global.

Lantas bagaimana pemanasan global bisa terjadi?

Siklus Efek Rumah Kaca

Pemanasan global terjadi akibat dari peningkatan efek rumah kaca yang disebebakan oleh naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Semakin tinggi konsentrasi gas rumah kaca maka semakin banyak radiasi panas dari bumi yang terperangkap di atmosfer dan dipancarkan kembali ke bumi. Hal ini menyebabkan peningkatan suhu di permukaan bumi.

Walaupun banyak terjadi perdebatan diantara para ilmuwan akan kebenaran dari perubahan iklim akibat dari pemanasan global tetapi menurut data yang yang didapat dari UNFCCC (United Nations Framework Conference of Climate Change) efek dari pemanasan global dikemukakan sebagai berikut:

• Meningkatnya pemanasan
• Jumlah karbondioksida yang lebih banyak di atmosfer
• Lebih banyak air, tetapi penyebarannya tidak merata
• Kenaikan permukaan Laut
• Pengurangan tutupan salju
• Gletser yang mencair
• Benua Arktik menghangat

Semua negara di belahan mana pun di dunia ini akan terkena imbas dampak dari pemanasan global. Indonesia yang merupakan salah satu negara ekuator, kepulauan, dan hutan tropis basah terbesar ketiga di dunia, dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang terbesar di dunia, dan digolongkan sebagai salah satu megadiversity country, telah mengalami akibat dari pemanasan global tersebut. Untuk itu diperlukan upaya pencegahan untuk menyelamatkan dunia dari efek pemanasan global tersebut.

Berdasarkan hal-hal diatas mitigasi perubahan iklim wajib dilakukan, sebagai langkah preventif. Mitigasi adalah suatu usaha untuk mengurangi akibat/efek dari suatu kondisi/potensi bahaya sebelum bahaya itu muncul. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan. Lantas bagaimana mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang harus kita lakukan?

1. Mereduksi karbon dioksida (CO2)

Karbon dioksida atau zat asam arang dengan rumus kimia CO2 adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Menurut peneliti dari Louisiana Tech University, cara yang paling mudah untuk mereduksi karbon dioksida di udara adalah dengan cara penghijauan / menanam pohon. Penghijauan merupakan salah satu cara untuk mengurangi efek dari pemanasan global yang saat ini dirasakan masyarakat dunia. Dengan makin banyaknya pohon yang ditanam tentunya akan menyerap karbon dioksida di udara melalui fotosintesa.

2. Mereduksi Metana (CH4)

Siklus tumbuhan menyerap karbon dioksida menjadi oksigen

Metana adalah hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas dengan rumus kimia CH4. Gas metana umumnya berasal dari pembusukan kotoran dan semua bahan organik. Metana juga dapat ditemukan di ladang minyak, ladang gas bumi, dan juga tambang batu bara. Menurut Dr. Kirk Smith, Profesor Kesehatan Lingkungan Global di Universitas Kalifornia, Berkley, menyatakan bahwa gas metana merupakan salah satu gas dari efek rumah kaca, dimana gas metana 25 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam memberikan kontribusi terhadap efek rumah kaca.  Langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk mereduksi gas metana ini adalah:

i. Sektor Peternakan

Membatasi perkembangan industri peternakan hewan. Dengan membatasi perkembangan industri peternakan, setidaknya pembusukan kotoran yang menjadi penghasil gas metana ini dapat diminimaliskan. Hal ini akan berjalan dengan baik apabila penduduk dunia rela untuk mengurangi kebiasan untuk mengkonsumsi daging dan menggantinya dengan mengkonsumsi sayuran (vegetarian). Penerapan teknologi pun ikut ambil bagian dalam mengurangi gas metana dalam emisi gas rumah kaca, seperti yang kita ketahui yaitu penerapan gas metana menjadi Biogas sebagai bahan bakar alternatif.

ii. Sampah

Manusia dalam setiap kegiatannya hampir selalu menghasilkan sampah. Sampah sendiri turut menghasilkan emisi Efek Rumah Kaca berupa gas metana (CH4). Teknologi pengolah sampah, baik dari sisi pemisahan, daur ulang dan penghancuran jelas sangat diperlukan ketika volume sampah makin besar. Hal yang perlu dilakukan dalam menanggulangi masalah sampah yaitu memisahkan sampah menurut jenisnya guna memanfaatkan sampah yang masih bisa dipakai/didaur ulang, contoh:

- Sampah Organik

Sampah organik (dedaunan atau sisa makanan) bisa digunakan untuk pupuk yang sangat berguna bagi tanaman.

- Sampah Kertas

Sampah kertas bisa diolah kembali menjadi kertas daur ulang dan dapat digunakan sebagai dekorasi atau juga bisa untuk hiasan.

- Sampah lainnya

Jenis sampah lainnya (kaleng, botol, kendi, dll) bisa diolah ulang menjadi kerajinan tangan seperti vas bunga, tempat pulpen.

3. Peran IPTEK terhadap perubahan iklim

Salah satu catatan dari Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNCCC) di Bali Desember 2007 lalu adalah keinginan negara-negara berkembang untuk mendapatkan transfer teknologi ramah lingkungan dari negara maju guna ikut mensukseskan pengurangan emisi demi mencegah pemanasan global. Hal ini perlu dilakukan mengingat semakin banyak orang yang sudah tidak peduli akan lingkungan, oleh karena itu IPTEK diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam pemanfaatan sumber daya alam yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Berikut ini peran IPTEK terhadap perubahan iklim:

i. Sektor Transportasi

Dewasa ini telah dikenal kendaraan yang ramah lingkungan dan efisien seperti kendaraan bermesin hybrid, kendaraan dengan memanfaatkan sinar matahari, dll. Hal ini sangat membantu meminimaliskan pemakaian bahan bakar fosil yang susah sekali dilepaskan dari pemakai kendaraan.

ii. Sektor informasi dan komunikasi

Komunikasi elektronik akan menjadi sangat ramah lingkungan jika diterapkan dengan tepat. Telekomunikasi akan mengurangi kebutuhan transportasi, berarti hemat energi. Informasi juga dapat disebarkan tanpa kertas (paperless) sehingga mengurangi jumlah pohon yang harus ditebang.

Segelintir orang yang peduli akan lingkungan telah melakukan hal-hal mitigasi seperti diatas dan telah diimplementasikan secara bertahap di kehidupan sehari-hari. Lantas bagaimana dengan kita melihat dunia yang semakin rusak karena aktifitas-aktifitas sehari-hari kita? Langkah-langkah pencegahan ini akan sia-sia saja jika di dalam diri kita tidak ada kemauan yang kuat untuk merubah gaya hidup yang ramah terhadap lingkungan. Sudah saatnya kita mulai berbenah dari gaya hidup lama kita ke gaya hidup yang baru. Langkah-langkah yang terdengar sederhana, tetapi tampaknya sulit diterapkan jika tidak diikuti kesadaran tinggi dari manusia untuk sedikit berkorban demi masa depan Bumi.

Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi yang lebih baik


Together We Can

Daftar Pustaka
http://www.godsdirectcontact.org.tw/eng/news/199/so_66.htm
http://unfccc.int/files/meetings/cop_13/press/application/pdf/sekilas_tentang_perubahan_iklim.pdf
http://famhar.multiply.com/journal/item/103
http://mbojo.wordpress.com/2009/08/29/kontribusi-manusia-terhadap-perubahan-iklim-dan-lingkungan/

About these ads

December 14, 2009 - Posted by | Meteorologi

33 Comments »

  1. judul sudah ok…isinya secepatnya ya….ok

    Comment by noaapoerba | December 17, 2009 | Reply

    • oke pak.., isi sedang dibuat hanya saja blum dimasukkan ke dalam blog.

      trims pak telah diingatkan!

      Comment by bennyyohanespanjaitan | December 17, 2009 | Reply

  2. ehmm,,
    lumyan lah,,, hahaaa,,

    mw kritisi ttg tlsan
    “Walaupun banyak terjadi perdebatan diantara para ilmuwan akan kebenaran dari perubahan iklim”

    sbnrny beny trmsk yg setuju apa engga?, thp kebenaran itu,, soalny pernah baca juga hmpr 60 % saintis AS memanipulasi data mereka utk mendukung keyakinan mrka, trs kn AS jg mendominasi smw aspek, trmsk pengetahuan,,

    sm ilmuan yg ga setuju itu dasarnya ap y??

    _nuhun_ hheu
    *Putri

    Comment by ciputzz | December 30, 2009 | Reply

    • pertanyaan yang bagus nih..
      @putri
      yap.., betul sekali put..,! memang banyak yang bilang kalau “global warming” yang ada sekarang ini hanyalah hasil manipulasi dari para ilmuwan, seperti halnya film Inconvenient Truth yang kita tonton sewaktu pelajaran meteorologi (Seperti di kemukakan di scienceandpublicpolicy.org dengan judul The errors in Al Gore’s movie) menyampaikan 35 kesalahan tentang pengamatan global warming..
      Nah yang menjadi pertanyaan, isu global warming tersebut benar-benar ADA atau TIDAK? itu semua tergantung setiap pribadi seseorang untuk mempercayai ADA atau TIDAK nya.

      pertanyaan putri yang pertama”Sebenarnya benny trmsk yg setuju apa engga?”
      Kalau menurut saya pribadi, saya setuju bahwa global warming itu memang ada. Seperti yang kita rasakan sekarang ini aj put, suhu di sekitar menjadi sangat panas, bencana-bencana alam, contoh: tsunami, badai, dll(perubahan iklim menyebabkan bencana alam), dampak perubahan di daerah kutub(es mencair), kenaikan air laut, iklim yang tidak menentu, dll.

      pertanyaan putri yang kedua “Ilmuan yang ga setuju itu dasarnya apa y??”
      Dasar-dasar ilmuwan yang ga setuju itu banyak sekali put. Mungkin putri bisa melihat di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2965426

      saya coba memposting inti dari dasar mereka yang tidak mempercayai adanya pemanasan global:
      1. Tentang memanas nya daerah arktik yang begitu cepat.
      Ilmuwan yang tidak setuju pemanasan global menyatakan bahwa laut arktik memanas memang sudak sekian lama(bukan baru-baru ini). Mereka mencoba membuktikannya dengan kapal-kapal dagang dahulu yang berlayar di daerah arktik(jika arktik masih ‘berupa es’ berarti kapal tidak bisa berlayar tetapi jika arktik ‘tidak berupa es’ berarti kapal bisa berlayar.
      2. karbon dioksida yang ada sekarang ini lebih sedikit dari karbon dioksida yang ada sekitar setengah milyar tahun lalu yang volumenya mencapai 7000 per juta dan itu sekitar 18 kali lebih banyak dari sekarang.
      3. Terumbu karang memutih, terjadi tahun 1998 karena El Nino, dan pernah terjadi juga 125 tahun lalu, karena El Nino juga
      4. Naiknya Permukaan air laut yang terjadi sekarang ini (6meter)akibat mencairnya es dinilai masih normal, para ilmuwan sependapat dengan IPCC, sebuah badan PBB yang menyatakan bahwa bahkan naiknya permukaan air laut 7 meter masih dinilai normal
      dan masih banyak lagi.. untuk lebih lanjut coba di cek di link yang saya kasih yah put!!

      thx yah put atas komennya, kalau ada yang mau ditanyakan lagi boleh kok..! ^^

      Comment by bennyyohanespanjaitan | January 3, 2010 | Reply

  3. benny,masalah yang mitigasi bencana dengan penghijauan mauu nanyaa nii , banyaak wacana yang bilang kalo skg pohon-pohon ituu bisa menyebabkan perubahan iklim jg, brarti brtolak blkang kan dengan mitigasi perubahan iklim dengan penanaman pohon, nah yang menyebabkan pohon bisa menyebabkan perubahan iklim lebih parah ituuu gmnn ?

    Comment by sandrakania | December 30, 2009 | Reply

    • Sebelumnya bolehkah saya mengetahui sumber data yang diperoleh oleh Sandra?

      Menurut sumber data yang saya dapat, fakta yang terjadi semakin besar jumlah pohon dan hutan maka semakin banyak karbon dioksida yang diserap dari udara melalui proses fotosintesis. Yang menyebabkan perubahan iklim semakin parah itu kebakaran hutan, bukan pohonnya. Mungkin yang Sandra maksud itu kebakaran hutan. Pada intinya, semua aktifitas pembakaran akan melepaskan karbon ke udara yang akan menambah jumlah gas rumah kaca yang pada akhirnya memicu percepatan pemanasan global.

      thx yah san dah mampir di blog ini..

      Comment by bennyyohanespanjaitan | January 3, 2010 | Reply

  4. Benny, nais mau nanya aja yaah hehehe

    apa pemerintah Indonesia udah mulai melakukan mitigasi perubahan iklom ??
    ada contoh nyatanya gak ben(terutama mitigasi yang memanfaatkan wilayah pesisir) ?? makasi yaaah

    Comment by naisannisa | January 3, 2010 | Reply

    • Kebijakan yang telah dilakukan pemerintah cukup banyak nais.., oke saya coba postingkan per point yang saya tahu yah..
      1. Pengendalian pencemaran udara pada kendaraan bermotor yang dilakukan dengan uji emisi kendaraan bermotor, penggunaan BBG(Bahan Bakar Gas), pengaturan transportasi seperti busway, dll

      2. Pengendalian pencemaran udara di sektor pabrik dengan cara pengawasan dan pemenuhan nilai ambang batas

      3. Pencanangan penghijauan seperti penanaman 1000 pohon yang telah dilakukan pemerintah

      4. Penanaman mangrove(wilayah pesisir)

      5. Peninggian tanggul pantai(wilayah pesisir)

      dan masih banyak lagi. Sebetulnya pemerintah sudah melakukan berbagai upaya pencegahan perubahan iklim ini nais, namun sayangnya kepedulian kita terhadap lingkungan yang kurang. Percuma saja pemerintah melakukan berbagai upaya toh kita nya ga peduli..,tul ga nais?! hehe..

      oke thx yah atas komennya,

      Comment by bennyyohanespanjaitan | January 4, 2010 | Reply

  5. sudahkah anda melakukan mitigasi ini dalam kehidupan nyata???
    beranikah anda mengambil tindakan untuk mempengaruhi pemerintah untuk bertindak sangat tegas terhadap masyarakat yg membuat bumi kita ini menjadi sedemikian parahnya???
    apa alasannya!

    Comment by Rina Panjaitan | January 3, 2010 | Reply

    • Langkah-langkah real yang telah saya lakukan antara lain;
      1. Menanam tanaman disekitar lingkungan
      2. Menggunakan air dan listrik seperlunya
      3. Menggunakan tas belanja pada saat bepergian
      4. Menggurangi ‘kebiasaan’ membeli produk dalam bentuk kemasan
      untuk tindakan real yang lain belum saya terapkan dalam kegiatan sehari-hari karena ketergantungan yang masih belum bisa dihilangkan pada kehidupan sehari-hari.

      beranikah anda mengambil tindakan untuk mempengaruhi pemerintah untuk bertindak sangat tegas terhadap masyarakat yg membuat bumi kita ini menjadi sedemikian parahnya???
      Menurut pendapat saya, kata ‘berani’ pada pertanyaan anda penilaiannya relatif pada setiap individu masing-masing tetapi dari saya pribadi untuk saat ini belum ada langkah-langkah real yang dapat saya lakukan dalam mempengaruhi pemerintah untuk bertindak tegas. Untuk saat ini mitigasi yang telah saya lakukan hanyalah sebatas dari diri saya sendiri untuk lingkungan.

      Comment by bennyyohanespanjaitan | January 3, 2010 | Reply

  6. comment aq jg to…

    Comment by Rina Panjaitan | January 3, 2010 | Reply

  7. hmmm…dengan opini anda, sudah bisa berdebat nich dengan LSM?
    1. dalam hubungannya dengan mahasiswa perikanan dan ilmu kelautan, apa yang dapat anda lakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim?
    2. Untuk Putri, saya percaya bahwa scientis sebenarnya mengemukaan fakta, mungkin si pengguna yang menyalahgunakan data tersebut.
    3. Apakah ada peran IPTEK untuk bidang kelautan? Jelaskan?

    Comment by noaa | January 3, 2010 | Reply

    • 1. Dalam hubungannya dengan mahasiswa perikanan dan ilmu kelautan, apa yang dapat anda lakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim?
      Oke pak.., saya akan coba memposting yang dapat saya lakukan sebagai mahasiswa untuk mengurangi dampak perubahan iklim ini khususnya di sektor kelautan..
      -Menjaga ekosistem dibawah laut
      Dengan cara memelihara dan memberitahukan kepada masyarakat dampak yang akan terjadi jika ekosistem dibawah laut menjadi rusak
      -Sumber daya laut berkelanjutan
      Dengan cara mengsosialisasikan masyarakat pesisir khususnya nelayan untuk tidak overeksploitasi Sumber Daya Hayati laut.
      -ikut berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih pantai dan mengsosialisasikan masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya.
      mungkin ini yang dapat saya lakukan sebagai mahasiswa untuk meredam efek dari pemanasan lingkungan.

      2. Terima kasih pak sudah memberikan penjelasannya. Memang sebetulnya saya bingung untuk menjelaskan terlebih lagi jika saya telusuri dari sumber-sumber yang yang ada, terdapat perbedaan pendapat antara sumber satu dengan sumber yang lain

      3. Apakah ada peran IPTEK untuk bidang kelautan? Jelaskan?
      ok pak., akan saya bagi per point
      1. Teknologi pengelolaan limbah radioaktif yang diterapkan pada industri-industri, khususnya industri nuklir yang bertujuan untuk meredam volume limbah ke laut, agar dalam penanganan selanjutnya pekerja radiasi, anggota masyarakat dan lingkungan hidup aman dari paparan radiasi dan kontaminasi(untuk keterang lebih lanjut di http://www.batan.go.id/ptlr/08id)/?q=node/16.

      2. Pembuatan terumbu karang buatan dengan cara menenggelamkan sebuah benda(seperti yang telah dilakukan oleh Jepang dengan menenggelamkan kapal laut yang sudah tua ke dalam laut). Benda yang ditenggelamkan ke dalam laut ini, seiring dengan waktu akan terjadi pengerasan/pengapuran yang kemudian akan menjadi terumbu karang.

      3. Aplikasi fishfinder dan GPS dalam penerapannya dalam teknologi pencarian ikan (http://onlinebuku.com/2009/02/02/aplikasi-fishfinder-%E2%80%9Dhydro-acoustic%E2%80%9D-dan-gps-dalam-teknologi-pencarian-ikan/), sehingga mempermudah nelayan dalam mencari letak ikan dalam jumlah yang banyak. Dari Teknologi Pencarian Ikan ini, nelayan menjadi semakin mudah mencari ikan sehingga dapat menekan pemakaian bahan bakar, selain itu dampak pencemaran laut akibat bahan bakar pun dapat berkurang karena nelayan langsung dapat menemukan letak ikan tersebut tanpa harus terus menerus mencarinya.

      mungkin ini yang dapat saya sampaikan.., terima kasih telah mengunjungi blog saya pak, dan saya mohon maaf kalau saya telat untuk memaparkan penjelasan saya atas pertanyaan bapak.

      Comment by bennyyohanespanjaitan | January 5, 2010 | Reply

  8. bang Benn saya cuma mau ngasih pendapat tentang pengurangan sektor peternakan.

    Saya kurang setuju bang Benn.

    Knapa?

    Soalnya jiga dari sektor peternakan yang dipermasalahkannya adalah kotorannya yang mengandung metana., menurut saya sekarang metana sudah menjadi salah satu alternatif sebagai bahan bakar di rumah tangga. Ini justru bernilai positif. Jadi kesimpulannya sektor peternakan sebaiknya tidak dikurangi, namun teknologi tepat gunanya lah yang ditingkatkan yaitu dengan cara memproses gas metana menjadi “BIOGAS” seperti yang sudah dilakukan oleh para peneliti dan diaplikasikan kepada para peternak.

    OK thanks

    Comment by Candra P N | January 4, 2010 | Reply

  9. bennyy komenkomen blog punyaa sandra dong benny . kita kan sekelompokk . hha

    Comment by sandrakania | January 4, 2010 | Reply

  10. benn… mau nanya ya.. hhe

    ada ga ben kebijakan pemerintah indonesia, mengenai perubahan iklim yang sedang terjadi ini? contoh kebijakannya apa?

    thx benn.. hhe

    Comment by regivigavialli | January 4, 2010 | Reply

    • dari pertanyaan nais sudah saya postingkan re..,

      mungkin regi ada pertanyaan lagi?

      Comment by bennyyohanespanjaitan | January 4, 2010 | Reply

  11. ben,kata kmu kan Mitigasi adalah suatu usaha untuk mengurangi akibat/efek dari suatu kondisi/potensi bahaya sebelum bahaya itu muncul.kaya gmna sih contoh usaha mitigasi teh??
    AKU MASIHH BLUM TWU.

    Comment by affandiramzani | January 5, 2010 | Reply

  12. ben comment aq ada g???
    udh aq krm ya…

    Comment by affandiramzani | January 5, 2010 | Reply

  13. Seperti yang telah saya paparkan pada blog saya, banyak hal yang harus kita lakukan dalam mereduksi efek dari pemanasan global, seperti;
    1. Penanaman pohon untuk menyerap emisi gas rumah kaca
    2. mengubah kebiasaan pola makan dari mengkonsumsi daging menjadi vegetarian(mereduksi gas metana yang ada dalam emisi gas rumah kaca)
    3. Memisahkan sampah menurut jenis sampahnya sehingga dapat memudahkan kita untuk mendaur ulang sampah tersebut.
    4. Menerapkan teknologi-teknologi yang ramah lingkungan.
    5. Dengan menghemat penggunaan kertas, secara tidak langsung dapat mengurangi penebangan pohon untuk ditebang
    dan masih banyak lagi yang dapat kita lakukan..

    trimakasih yo fan atas kunjungannya ke blog ini dan komentarnya..

    Comment by bennyyohanespanjaitan | January 5, 2010 | Reply

  14. Bung ben..
    saya mau bertanya..
    seberapa tanggapkah masyarakat indonesia mengenai mitigasi perubahan iklim,apakah mereka benar-benar peduli jika mitigasi ini dilakukan?? dan sebagi mahasiswa upaya apa yang anda lakukan untuk berbagi ilmu tentang pengetahuan mitigasi perubahan iklim..??

    Comment by satriokelautan | January 5, 2010 | Reply

    • Dimulai dari pertanyaan pertama dari saudara satrio mengenai “seberapa tanggapkah masyarakat indonesia mengenai mitigasi perubahan iklim,apakah mereka benar-benar peduli jika mitigasi ini dilakukan??”

      Jika berbicara “seberapa tanggapkah masyarakat Indonesia terhadap perubahan iklim.” menurut saya penilaiannya relatif menurut masing-masing individu. Tetapi menurut saya, masyarakat Indonesia secara keseluruhan kurang tanggap akan mitigasi perubahan iklim ini. Hanya segelintir orang yang peduli akan lingkungan yang telah melakukan mitigasi-mitigasi pada blog diatas. Lantas bagaimana dengan yang lain?? Saya menilai kebanyakan masyarakat masih kurang peduli akan lingkungan, sehingga mereka berbuat acuh terhadap lingkungan. Sudah beraneka cara dilakukan oleh pemerintah Indonesia agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan, tetapi masyarakat pun masih tetap acuh terhadap lingkungan ini. Jika saya bandingkan Indonesia dengan negara-negara maju, justru pada masyarakat di negara maju lah yang terus-menerus mendesak pemerintah untuk berpartisipasi dalam perubahan iklim.

      Pertanyaan kedua mengenai “upaya apa yang anda lakukan untuk berbagi ilmu tentang pengetahuan mitigasi perubahan iklim..??”
      menurut saya, langkah efektif terhadap mitigasi perubahan iklim ini adalah menyebarkan informasi kepada masyarakat tentang perubahan iklim serta dampak akibat dari perubahan iklim ini. Tujuannya agar masyarakat sadar akan lingkungan sekitar sehingga melakukan hal-hal mitigasi perubahan iklim.

      mungkin ini yang dapat saya sampaikan dan terimakasih atas kunjungannya di blog ini.

      Comment by bennyyohanespanjaitan | January 5, 2010 | Reply

  15. saudara benny mau nanya ni,,!!
    boleh kan??
    d jawab y lae,,

    hemm. .., hemm. . ,

    pertanyaan gw mah simple aja kok,
    cuma minta saran dari anda saja mengenai KTT,

    Anda kan sudah mengetahui bahwa Tahun yg lalu di Kopenhagen, Denmark telah di adakan KTT-15 mengenai perubahan iklim,
    dan telah di dapatkan hasil dari konfrensi yaitu kebanyakan adalah kekecewaan bahkan kegagalan atas hasil dari KTT tersebut,
    pertnyaan saya memang kenapa hasil KTT tersebut banyak yang merasa kecewa?
    trus,

    Pada ahun 2010 ini, nanti akan di adakan kembali KTT berikutnya (COP 16) yang direncanakan diadakan di meksiko.
    menurut anda apakah solusi yg harus dilakukan dan dibahas nanti pada COP-16 nanti,,???
    agar menghasilkan Kesepakatan Perubahan Iklim untuk bisa mencegah pemanasan global, dan bukan menghasilkan kekecewaan bahkan kegagalan lagi seperti KTT tahun kemarin.

    terima kasih,

    Comment by josuasilitonga | January 5, 2010 | Reply

    • oke.., saya akan menjawab pertanyaan pertama mengenai kekecewaan dari setiap negara pada hasil konferensi di kopenhagen. Akan saya paparkan menurut saya pribadi kekecawaan dari setiap negara termasuk saya sendiri dari konferensi Koppenhagen secara per point.

      1. Hasil konferensi di Koppenhagen tidak mengikat. Maksud dari tidak terikat ini ialah tidak adanya aturan hukum di tingkat Internasional yang menegaskan untuk mengurangi gas emisi rumah kaca dari setiap negara.

      2. Komitmen dari setiap negara untuk mengurangi gas emisi. Seperti contoh negara-negara berkembang terus menyuarakan tentang perubahan iklim kepada negara maju, tetapi bukti nyata yang dilakukan oleh negara berkembang tidak ada langkah real yang nyata. jika kita melihat seperti kasus Freeport yang diperpanjang masa kontraknya di Indonesia. Padahal jika kita telusuri, Indonesia lah yang terus menyuarakan masalah pemanasan global tetapi nyatanya Indonesia malah memperpanjang kontrak dari Freeport yang secara jelas telah merusak lingkungan Indonesia.

      3. Negara maju pada umumnya mendorong negara berkembang untuk menjaga hutan sebagai paru-paru dunia. Tetapi jika kita telusuri lagi, negara maju seperti Amerika, China dan India TETAP menjadi penghasil terbanyak gas emisi rumah kaca ini.
      Menurut saya pribadi inti kekecewaan dari setiap negara adalah ketidakseriusan dalam menanggapi masalah perubahan iklim. Jika saya melihat, negara maju dan negara berkembang hanya bisa berbicara di tingkat Internasional tanpa ada perubahan dalam bertindak.

      Pertanyaan kedua dari bung Josua mengenai solusi yang harus dilakukan pada konferensi berikutnya!
      Seperti yang saya tulis diatas, perlu langkah konkrit dan serius dalam masalah perubahan iklim ini. Perlunya dibentuk peraturan yang mengatur tentang perubahan iklim ini agar setiap negara yang “bebal” dapat ditindak lanjuti secara hukum.

      trima kasih bung Joshua telah mampir. Semoga dapat bermanfaat.

      Comment by bennyyohanespanjaitan | January 5, 2010 | Reply

  16. bending,,
    saya ingin bertanya,,
    mitigasi apa saja yang harus kita hadapi pada masa perubahan iklim sekarang??

    Comment by ulincool | January 5, 2010 | Reply

    • Sebetulnya hal-hal mitigasi ini sudah saya paparkan dalam blog dan jawaban pada komentar-komentar teman diatas. Tapi untuk menghargai komentar dari Ulin, akan saya postingkan mitigasi yang dapat dilakukan pada masa perubahan iklim sekarang.
      1. Membuang sampah menurut jenis sampahnya.
      Banyak manfaat yang bisa kita lakukan untuk mengolah kembali sampah. Seperti contohnya pupuk(dari sampah organik), bahan-bahan dekorasi(dari sampah kertas), dan kerajinan tangan lainnya. Oleh karena itu pemisahan sampah perlu kita lakukan untuk mempermudah dalam mengolah sampah tersebut kembali.

      2. Peran IPTEK terhadap perubahan iklim
      Dahulu jika kita berbicara mengenai IPTEK, pasti berkaitan dengan masalah lingkungan yang ditumbulkan dari IPTEK tersebut. Tetapi kini IPTEK telah banyak menyumbangkan kontribusinya dalam menghadapi perubahan iklim ini, Seperti misalnya;
      – Teknologi hybrid pada mesin mobil yang didisain lebih ramah lingkungan dari teknologi sebelumnya.
      – Teknologi-teknologi di pabrik yang sudah menerapkan energi yang dapat diperbaharui, contohnya; energi solar, energi angin, dll.
      – Teknologi Biogas sebagai bahan bakar alternatif untuk mereduksi kotoran ternak menjadi bahan bakar.

      3. Merubah kebiasaan dari mengkonsumsi daging menjadi vegetarian.
      Hal ini perlu kita lakukan, mengingat jumlah metana yang besar dihasilkan oleh sektor peternakan. Sayangnya, hal ini sangat sulit dilakukan oleh Indonesia, dikarenakan adat budaya Indonesia yang masih sangat kental menggunakan daging disetiap kegiatan adat budaya Indonesia.

      4. Menghemat penggunaan kertas.
      Seperti yang kita tahu bahwa bahan dasar pembuatan kertas adalah kayu. Dengan menghemat penggunaan kertas secara tidak langsung kita mereduksi penebangan pohon sebagai bahan bakunya.

      Comment by bennyyohanespanjaitan | January 5, 2010 | Reply

  17. terima kasih informasinya ben..
    tapi saya ingin sedikit bertanya nie…
    dari hasil konfrensi yang telah di sepakati,,
    apa yang mesti dilakukan bagi negara maju untuk mengatasi perubahan iklim dan apa pula kewajiban yang mesti di lakukan bagi negara berkembang untuk mengatasi perubahan iklim tersebut??

    Comment by Alfian | January 5, 2010 | Reply

    • oke terima kasih alfian sudah mau berkunjung pada blog ini..

      Untuk menjawab pertanyaan Alfian, akan saya bagi per point mengenai hasil cakupan konferensi yang telah disepakati;
      1. Komitmen
      komitmen dari negara maju (Amerika, India, China, Jepang, Kanada, UNI EROPA yang terdiri dari 27 negara) yang akan menurunkan emisinya, diikuti dengan komitmen negara-negara berkembang.

      2. Tuntutan
      -Negara maju menuntut negara berkembang dengan ekonomi maju diharapkan emisi puncak terjadi pada 2025.
      -PBB meminta 10 miliar dollar AS per tahun dari negara kaya sampai tahun 2012 untuk dan meningkat menjadi 100 miliar sampai 200 miliar dollar AS per tahun.
      -Negara Uni Eropa meminta penurunan GRK 50% pada tahun 2050.
      -Negara berkembang menuntuk $300 miliar untuk kurangi emisi.

      Untuk keterangan lebih lanjut ada di http://www.blogriza.com/2009/12/22/hasil-konferensi-perubahan-iklim-pbb-kopenhagen-denmark/

      semoga bermanfaat.^^

      Comment by bennyyohanespanjaitan | January 5, 2010 | Reply

  18. bung benny,trmkasih atas tulisannya..memberikan pengetahuan buat kita semua..
    begini bung, yang pernah saya baca laut juga menjadi penyedia karbon (carbon source) tergantung kondisinya,dan kita tau bahwa karbon salah satu gas menyebabkan perubahan iklim,,bagaimana menurut anda??

    Comment by laluauliyaakraboe | January 5, 2010 | Reply

    • Pengurangan efisiensi penyerapan gas karbondioksida oleh Lautan disebabkan oleh peningkatan kekuatan angin sebagai akibat dari peningkatan gas rumah kaca di atmosfer dan pengurangan lapisan ozon jangka panjang di stratosfer(untuk info lebih lanjut di http://hariansib.com/?p=74862). Balik lagi ke pertanyaan lalu, laut menjadi penyumbang karbon(carbon source) diakibatkan dari peningkatan kekuatan angin akan menyebabkan proses percampuran dan penaikan massa air laut dalam ke permukaan (upwelling) yang pada akhirnya meningkatkan pelepasan gas CO2 ke atmosfer., inilah yang menjadi siklus dari carbon source tersebut. Jadi laut tidak semata-semata hanya melepaskan carbon source tetapi laut juga menjadi carbon sink. Pemanasan global lah yang membuat laut sekarang ini menjadi penyedia karbon.

      Terimakasih lalu atas pertanyaannya, semoga bermanfaat.

      Comment by bennyyohanespanjaitan | January 5, 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: